Dinamika industri milenia sangat menuntut lulusan yang Perform baik mental maupun fisik. Oleh karenanya program studi terus berupaya meningkatkan inovasi dan kreativitas pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan industri saat ini.

Begitu juga dengan Program Sudi Teknologi Rekayasa Kimia Industri (TRKI) Sekolah Vokasi Undip yang telah menyelenggarakan kegiatan pengadaan peralatan penunjang Teaching Factory (TEFA) Biodiesel dan TEFA Air Minum seperti spektrofotometri UV-VIS dan Filling Bottle. Kegiatan pengadaan dengan penanggung jawab Dr. Ria Desiriani, S.T., M.T. merupakan bagian dari program Competitive Fund 2023 Direktorat Jenderal Sekolah Vokasi (Ditjen Diksi).

Ria menyampaikan bahwa dengan penambahan alat spektrofotometri UV-VIS dan Filling Bottle diharapkan akan meningkatkan jumlah mata kuliah dengan pembelajaran berbasis TEFA. “Saat ini mata kuliah yang telah didesain berbasis Teaching Factory seperti Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Teknologi Pengolahan Air Industri, Utilitas, Instrumentasi & Pengendalian Proses, Start Up  & Shut Down, Perusahaan Berbasis Teknologi, Analisis Proses Industri Kimia dan mata kuliah lainnya. Oleh karenanya, secara simultan baik dosen dan tendik TRKI juga dibekali dengan berbagai sertifikat kompetensi seperti Pelaksana K3, Audit Energi, Manager Energi Industri dan sertifikasi lain serta implementasi ISO 45001:2018 yang merupakan salah satu syarat sebagai pengajar dan pengelola berbasis TEFA,” papar Ria.

“Metode pembelajaran mata kuliah berbasis TEFA, pelaksanaannya langsung di TEFA dan mahasiswa mereplikasi praktek di miniplant untuk meningkatkan Skill. Materi seperti start up, shut down, cleaning dan overhole, trouble shooting dan solusi dan masih banyak lagi materi lain yang disampaikan secara praktek. Harapannya setelah lulus dan mengikuti seleksi di industri seperti test FGD (Focus Group Discussion) terkait studi kasus, para alumni akan menunjukkan perform, karena sesuai pembelajaran yang dilakukan selama ini,” kata Ria. Replikasi yang lain dengan menerapkan merdeka belajar seperti kegiatan dosen dan tendik yaitu Penelitan dan Pengabdian Masyarakat yang melibatkan mahasiswa.

Sementara Ketua Program Studi TRKI, Mohamad Endy Yulianto, S.T., M.T., mengungkapkan, “pengembangan TEFA dalam waktu dekat ini berupa digitalisasi pengendalian proses yang akan kita sentralkan dengan menggunakan Distributed Control System (DCS). Pengembangan ini tentunya juga kolaborasi dengan program studi yang terkait seperti Rekayasa Perancangan Mekanik (RPM), Teknik Listrik Industri (TLI) dan Teknologi Rekayasa Otomasi (TRO) dengan dukungan dosen-dosen praktisi seperti Dr. Novi Hery Yono (PPSDM Migas – Cepu), Ir. Jahnawi Tri Wasisto, M.M., MBA. (Ex Vice President ENI Indonesia) dan Tjoek Oedowo, S.T., M.H. (Dirut PT Wealthindo Putrapramesti Perkasa)”.

Endy menambahkan bahwa sistem Pendidikan TRKI yang didesain dengan konsep pembelajaran OB TVET (Prinsip, Infrastruktur dan Suprastruktur), menyiapkan lulusan yang sangat Perform sesuai kebutuhan industri milenia. Sistem pembelajaran vokasional yang dikembangkan fokus pada Outcome Based Education (OBE) dengan sistem pembelajaran Outcome Based Curriculum (OBC), Outcome Based Learning and Teaching (OBLT) dan Outcome Based Assessment and Evaluation (OBAE) untuk menyongsong pembelajaran Cybergogy, yaitu aktif mentautkan kreativitas melalui web 4.0, berkomunikasi, berkolaborasi dalam Cyber, self regulated, ownership, generative, Inspirator, dan bermakna. Oleh karenanya sistem pendidikan memodifikasi Dual System yang terintegrasi dengan Digitalisasi Teaching Factory sesuai dengan kebutuhan pasar lapangan pekerjaan dan perkembangan industri.

Prof. Dr. Ir. Budiyono, M.Si. selaku Dekan Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro memberikan sambutan positif terhadap inovasi pembelajaran vokasional yang dikembangkan oleh Program Studi. “Dalam rangka mencapai visi Sekolah Vokasi sebagai pusat pendidikan vokasi yang unggul, kami mendukung konsep OB TVET dalam langkah-langkah pengembangan kegiatan yang mendukung lulusan siap kerja. Keberlangsungan Revolusi Industri 4.0 dan juga Society 5.0 membuat dinamika dunia pasca perkuliahan semakin tinggi. Oleh karena itu, kita perlu mempersiapkan para lulusan agar memiliki global competitiveness yang mencakup hard skills dan soft skills“, sebagaimana yang disampaikan Prof Budiyono. Saatnya Vokasi Juara!

 

Share this :