Dr. Diana Puspita Sari, S.T., M.T., Dosen Fakultas Teknik Undip, mengkaji pengembangan model jaringan pengelolaan limbah elektronik dengan mempertimbangkan niat perilaku konsumen. Menurut Dr. Diana, peningkatan penggunaan perangkat elektronik (smartphone) secara signifikan akan meningkatkan potensi limbah elektronik, dan tingginya potensi aliran limbah ini belum diimbangi dengan pengelolaan yang baik.

Adanya penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perilaku konsumen pasca penggunaan smartphone, niat konsumen untuk berpartisipasi dalam program pengumpulan sampah elektronik,  serta mengembangkan model jaringan pengelolaan limbah elektronik dengan mengkolaborasikan jalur formal dan informal.

Dr. Diana melakukan metode statistik deskriptif dan Partial Least Squares untuk menganalisis perilaku dan niat konsumen. Lalu, pengembangan model jaringan pengelolaan dilakukan dengan penentuan collection channel dan rute pengangkutan dengan metode Extended-Location Set Covering Problem, Nearest Neighbor, dan Tabu Search. Analisis penerimaan konsumen terhadap produk secondhand melalui analisis regresi. Dr. Diana melanjutkan kajiannya dengan menganalisis dampak daur ulang limbah smartphone terhadap lingkungan menggunakan metode eco-cost, serta menghitung profit yang akan didapat jika jaringan pengelolaan dapat berjalan dengan baik.

Hasil penelitian Dr. Diana menunjukkan bahwa konsumen cenderung akan menyimpan smartphone bekasnya pasca penggunaan. Pengguna perempuan cenderung memiliki niat mengumpulkan sampah smartphone lebih tinggi dibanding laki-laki. Faktor kunci yang berpengaruh terhadap niat konsumen untuk mengumpulkan adalah Government drivers, diikuti oleh facility accessibility dan personal attitudes. “Pemerintah seharusnya membuat regulasi yang mengatur, mengawasi, dan menyediakan fasilitas pengelolaan limbah elektronik,” kata Dr. Diana.

Dr. Diana menemukan bahwa Provinsi Yogyakarta membutuhkan 30 titik primary collection center dengan jarak maksimal 11,2 km dari konsumen. Pengangkutan dari primary collection center menuju secondary collection center dilakukan setiap bulan dengan 4 rute pengangkutan. Tercatat ada sebesar 44% konsumen produk secondhand di Indonesia, sehingga peluang usaha pasar secondhand dapat dipertimbangkan dalam penyusunan jaringan.

Penelitian Dr. Diana menemukan bahwa keputusan membeli produk secondhand dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya harga, kualitas, dan pendapatan. Jika dilihat hubungannya dengan jenis kelamin dan pendidikan, keputusan pembelian produk secondhand didominasi oleh laki-laki berpendidikan menengah ke bawah.

Praktik daur ulang informal berdampak lebih terhadap lingkungan daripada daur ulang formal yang telah dilakukan oleh negara maju. Jalur formal memberikan keuntungan yang lebih besar, namun membutuhkan investasi yang lebih besar juga. “Sudah saatnya Indonesia beralih ke daur ulang formal, karena memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan yang lebih besar. Mengkolaborasikan jalur pengelolaan formal dan informal akan sangat menguntungkan supply chain jika bisa berjalan,” ujarnya. Dari penelitian ini menghasilkan 4 publikasi pada jurnal internasional bereputasi dan 2 publikasi pada proceeding seminar internasional. (GR-Humas)

Share this :