SEMARANG — Program Studi Sastra (Prodi) Indonesia merupakan tonggak awal lahirnya Fakultas Ilmu Budaya (FIB) di Universitas Diponegoro (UNDIP). Sebelum menjadi Prodi Sastra Indonesia, awalnya bernama Departemen Indonesiologi dan menjadi Prodi pertama di Fakultas Sastra dan Budaya Undip yang berdiri tahun 1965.

Departemen Indonesiologi yang lahir bersamaan dengan berdirinya Fakultas Sastra dan Budaya Undip, merupakan hasil kerja keras Tim Pendirian yang diketuai oleh Prof Soenario SH. Di jajaran Anggota Tim ada beberapa tokoh di antaranya penulis Kamus Bahasa Indonesia yang pertama WJS Poerwadarminta, kemudian ada Prof. A Sigit, Slamet Rahardjo MA, Rais, Soemadi Soemowidagdo, Soerono Tjitrosantjoko, Tan Wei Lie, Marsono dan  Fadjar yang mulai bergiat sampai terwujudnya Fakultas Sastra dan Budaya Undip pada 1 September 1965. Dasar pendiriannya adalah Surat Keputusan Menteri PTIP No. 173/1965 tertanggal 21 Agustus 1965 dengan satu program studi: Indonesiologi.

Terminologi “Indonesiologi” dipakai untuk memberi penegasan bidang keilmuannya mempelajari segala sesuatu tentang Indonesia mulai dari bahasa, sastra dan kebudayaannya. Hal itu sesuai dengan maksud pendirian Departemen Indonesiologi yang diharapkan menghasilkan sarjana-sarjana yang dapat meneliti dan memperluas wawasan tentang sastra, bahasa, sejarah, dan kebudayaan Indonesia sehingga mampu memperkenalkannya pada dunia internasional.

Upaya mendirikan program studi sekaligus fakultas ini sebenarnya sudah dimulai awal tahun 1965, dengan lahirnya Surat Keputusan Rektor UNDIP No. 626/Sp/Adm/BUP/1965 tanggal 25 Januari 1965 tentang Pembentukan Panitia Pendirian Fakultas Sastra. Salah satu poin dalam konsideran surat keputusan itu menyebutkan ”Jawa Tengah merupakan suatu daerah yang kaya sumber sejarah, budaya, dan kesusastraan Indonesia”. Prof Soenario SH yang menjadi Ketua Tim Pendirian, menjadi Dekan yang pertama di Fakultas Sastra dan Budaya Undip.

Ketua Program Studi (Kaprodi) Sarjana Sastra Indonesia FIB Undip, Dr Muh Abdullah MHum, mengatakan pemakaian nomenklatur Indonesiologi merupakan bagian dari semangat nasionalisme yang menggebu dari para pendirinya. “Ada cita-cita besar agar pengetahuan tentang keindonesiaan menjadi ilmu tersendiri,” kata Abdullah, Senin (8/3/2021). Karena harus menyesuaikan dengan regulasi yang ada, sebelum tahun 80-an nama Departemen Indonesiologi diubah menjadi Sastra Indonesia bersamaan dengan perubahan nama Departemen Anglo Saxon menjadi Departemen Sastra Inggris.

Prodi Sastra Indonesia mendapat pengukuhan kembali oleh Dirjen Dikti pada tanggal 11 Juli 1996 melalui Surat Keputusan No. 220/Dikti/Kep/96. Sebagai salah satu program studi yang lahir di awal kelahiran Undip, Sastra Indonesia patut dibanggakan reputasinya. Berdasarkan sertifikat akreditasi yang diterbitkan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi Republik Indonesia No. 773/SK/BAN-PT/Akred/S/VII/2015, Program Studi Sarjana Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Diponegoro terakreditasi dengan peringkat A atau Unggul.

Adapun visi yang ingin diraih Prodi Sastra Indonesia Undip adalah menjadi menjadi pusat pendidikan, pengkajian, penelitian, pengabdian, dan pengembangan bahasa, sastra, filologi, dan budaya pesisir yang terdepan di tahun 2025.

Sedangkan salah satu misi yang diamanatkan adalah menghasilkan lulusan yang profesional dan mempunyai kemampuan, serta keterampilan di bidang bahasa, sastra, dan budaya Nusantara, khususnya budaya pesisir. Pengembangan yang kami lakukan semuanya berbasis pada kearifan lokal,” tukas Abdullah.