“Ada beberapa alasan kenapa saya merasa bangga sekali menjadi mahasiswa Universitas Diponegoro. Pertama, ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, saya pernah mengikuti sebuah perlombaan di Semarang. Dalam perjalanan menuju tempat lomba, kami melewati gapura Universitas Diponegoro. Bagi saya yang tinggal hanya dengan ibu, menempuh duduk di bangku kuliah saja tidak pernah terpikirkan. Apalagi, untuk masuk ke universitas besar sekelas Undip. Namun pada akhirnya, setelah proses yang cukup panjang, saya bisa menempuh kuliah di Undip bahkan hingga jenjang S2. Pencapaian-pencapaian itu, tentu tidak pernah terbayang sebelumnya” Hal tersebut diungkapkan Rafngi Mufidah, Lulusan Magister Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro yang lulus dengan IPK 3,93 dan masa studi 1 tahun 8 bulan pada Wisuda ke-162 Undip.

“Alasan yang kedua, dalam rangka menempuh Program Sarjana Strata-1, Undip telah menerima saya dan teman-teman sesama penerima beasiswa Bidikmisi dengan tangan terbuka, memberikan kesempatan kepada kami untuk menempa diri di berbagai organisasi, dan mendorong kami untuk berprestasi hingga berhasil meraih gelar sarjana. Pada tahun 2017, saya berhasil menyelesaikan studi S1 dengan tepat waktu dan bekerja selama satu tahun sebagai modal awal untuk studi lanjut. Kemudian pada tahun 2018, saya memutuskan untuk kembali ke almamater, melanjutkan pendidikan pada jenjang S2. Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berjasa menuntun dan membimbing saya hingga dapat menyelesaikan studi di Program Magister Ilmu Sejarah. Tentu tidak akan cukup apabila diungkapkan dengan kata-kata, kepada Dr. Dhanang Respati Puguh, M. Hum., Prof. Dr. Yety Rochwulaningsih, M. Si., Prof. Dr. Singgih Tri Sulistiyono, M. Hum., dan Dr. Haryono Rinardi, M. Hum., seluruh bapak dan ibu dosen serta tenaga kependidikan di Departemen Sejarah yang telah mendukung saya untuk terus belajar di tengah kehilangan terbesar dalam hidup saya” ungkapnya.

Bagi Rafngi, sosok Ibu adalah seseorang yang berpengaruh besar dalam proses kehidupannya. “Ibu saya meninggal pada waktu saya masuk awal kuliah S2 tahun 2019, beliau adalah sosok yang luar biasa, tabah dan setia mendampingi saya menuntut ilmu dengan segala keterbatasan-keterbatasan. Saya ingat, ibu tidak malu menitipkan saya kepada sopir bus antarkota karena tidak memiliki cukup uang untuk membelikan tiket transportasi. Kehilangan ibu adalah duka yang dalam, namun berkat dukungan dari bapak serta ibu dosen di Departeman Sejarah, saya kembali bangkit dan dapat menyelesaikan pendidikan sampai jenjang S2” lanjutnya.

Rafngi mengatakan bahwa Undip telah menjadi rumah yang memberikan banyak pembelajaran dan pengalaman hidup. Di bidang akademik, ia mendapatkan banyak kesempatan untuk mengembangkan pemikiran dan kompetensi melalui program pelatihan soft skill. Ia juga mendapatkan kesempatan yang luas untuk berinteraksi dengan dosen serta pakar, baik sejarah maupun bidang-bidang studi lain baik dari dalam maupun luar negeri melalui forum-forum diskusi yang dikemas dalam kegiatan seminar internasional, public lecture, dan visiting professor. Kegiatan itu terselenggara salah satunya atas inisiasi Program Studi Magister dan Doktor Sejarah dan merupakan bagian dari visi Undip menuju World Class University. Menurutnya dengan turut berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan itu tentu menjadi kebanggaan yang luar biasa.

Rafngi berharap sebagai bagian dari sivitas akademika Undip, dapat mengaplikasikan ilmu yang telah diperolehnya. “Ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan tentu tidak dapat dihitung selama menempuh pendidikan di Undip. Saya ingin turut berkontribusi baik tenaga dan pikiran dalam mengembangkan keilmuan agar bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa, meskipun sedikit” tuturnya.

“Pendidikan adalah investasi. Ketika berinvestasi, maka kita tidak dapat memetik hasilnya dengan cepat. Dalam proses menuju keberhasilan, tentu banyak ujian yang harus dilalui. Ujian-ujian itu, tidak jarang membuat kita menyerah. Ketika hampir menyerah, saya selalu ingat pesan ibu bahwa keberhasilan investasi bergantung pada sikap kita dalam menghadapi setiap ujian, kebijaksanaan dalam memilih jalan, dan keberanian mengambil peluang” pungkasnya. (Linda Humas)