SEMARANG – Menyongsong era society 5.0, perguruan tinggi dituntut mencetak para lulusan yang mampu mengembangkan diri dan berinovasi di bidang keilmuannya, sehingga dapat memberi dampak positif terhadap masyarakat. Tak terkecuali Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Diponegoro (UNDIP) yang bertekad melahirkan wirausahawan andal di bidang perikanan dan kelautan

Hal itu disampaikan Dekan FPIK Undip, Prof. Tri Winarni Agustini, M.Sc., Ph.D., dalam acara Inspirasi untuk Bangsa yang dipandu oleh Bambang Sadono belum lama ini. Prof. Tri sapaan akrabnya, menyampaikan untuk mewujudkan tekad tersebut penyelenggara pendidikan berupaya keras agar setiap lulusannya memiliki profesionalisme.

Dikatakan, FPIK Undip selain berupaya menghasilkan sarjana-sarjana bidang perikanan dan kelautan profesional yang mampu menjadi problem solving atas persoalan yang dihadapi dalam pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan, juga membekali lulusannya dengan kemampuan kewirausahaan.

Menurut Prof. Wirnarni, langkah tersebut didorong kenyataan bahwa kelautan dan perikanan merupakan basis utama sumberdaya ekonomi maritime dengan potensi nilai ekonomi US$ 1,5 Triliun Per Tahun. Jumlah yang sangat besar yang pemanfaatannya dibutuhkan pribadi-pribadi yang menguasai pengetahuan kelautan, perikanan sekaligus kewirausahaan, sehingga ekonomi maritime bisa mensejahterakan rakyat.

“Oleh karenanya, peran perguruan tinggi menjadi sangat sentral terutama dalam menciptakan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi atau IPTEK yang inovatif dan mencetak lulusan bidang perikanan dan kelautan yang profesional dan berdaya saing,” kata guru besar lulusan S2 di Inggris tahun 1991 ini.

Untuk mendukung hal itu, FPIK Undip terus melakukan terobosan dalam memberikan pelayanan pendidikan, salah satunya menyediakan program konsep Merdeka Belajar Kampus Merdeka di tahun 2021 melalui Program Alumni Mengajar. Konsepnya para alumni yang sukses dibidangnya diminta mengajar kepada para mahasiswa melalui webinar, talkshow atau agenda lain. “Bagaimana kualitas kelulusan yang harus dihasilkan bisa dilihat di situ. Ini mekanisme yang sangat perlu dikembangkan, dan kami sudah melakukannya secara intens sejak 2020,” tegasnya.

Selain program alumni mengajar, FPIK juga terus meningkatkan kerjasama dengan perusahaan-perusahaan agar terbangun link antara mahasiswa, penyelenggara pendidikan dan industri. Pola itu dilakukan agar program magang atau pelatihan selama 3 sampai 6 bulan bisa dilakukan dengan baik.

Beberapa kerja sama industri yang masih berlangsung di antaranya dengan PT Suri Tani Pemuka yang menawarkan magang progam budidaya. Yang menarik, tidak hanya mahasiswa program studi akuakultur yang bisa ikut, tapi mahasiwa prodi lain di lingkungan FPIK memiliki kesempatan magang selama empat bulan di perusahaan tersebut.

“Ini salah satu sinergi dengan industri yang bisa dimanfaatkan mahasiswa untuk belajar. Adanya jejaring dengan alumni diharapkan bisa dilakukan program mentoring dengan baik. Bekal teori saja tidak cukup, perlu terjun dan menjalankan langsung apalagi kami juga membekali mahasiswa dengan mata kuliah kewirausahaan,” jelas Prof Tri.

Langkah-langkah yang sudah dilakukan dinyatakan sejalan dan mendukung visi FPIK Undip menjadi fakultas yang unggul dalam bidang perikanan dan kelautan tropis pada tahun 2024. Tujuan yang ingin dicapai dalam penyelenggaraan pendidikan di FPIK adalah menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia) dan sesuai dengan kebutuhan pembangunan dan pasar kerja. (tim humas)