“Mengenyam pendidikan di Universitas Diponegoro menyadarkan saya bahwa privilege tanpa adanya usaha maka semua akan sia-sia. Menjadi mahasiswa Undip merupakan salah satu privilege terbaik yang pernah saya dapat, karena Undip merupakan kampus besar yang selalu mendukung setiap karya dan prestasi mahasiswanya. Saya telah merasakannya sendiri, bagaimana Undip mendukung usaha dan kerja keras saya hingga bisa menyandang gelar Juara 3 Mahasiswa Berprestasi Nasional. Saya sadar, tanpa bantuan dan dukungan dari Undip gelar tersebut tidak akan pernah saya raih, untuk itu saya mengucapkan terimakasih banyak almamaterku tercinta” ungkap Ni Putu Adeyani Wisudawan Wisuda-167 Undip (Mahasiswa STr Teknologi Rekayasa Kimia Industri Sekolah Vokasi).

“Selain kuliah saya juga mencoba terjun di dunia organisasi. Karir organisasi saya meliputi sekretaris di UKM KMHD Undip dan kabid PSDM HMTRKI. Selain itu untuk memperluas pengetahuan dan pengalaman, saya mengikuti kompetisi, riset, pelatihan, sertifikasi dan mengembangkan bisnis rintisan bernama Ciozem Company.  Saya juga sedang membangun suatu platform yang bernama @trustmeid_ yang membahas isu-isu mengenai self-improvement, sex-education dan mental health” tutur peraih IPK 3.85 ini.

Kompetisi yang ia raih antara lain 3rd Place Mahasiswa Berprestasi Nasional, Diploma Program (Puspresnas); 2nd Place Essay Competition (Kopri PMII UINSA), 3rd Place Essay Competition (Accounting Fair-UNISNU), Funding Awardee of Program 100 Wirausaha Muda (Vocational School, UNDIP); Funding Awardee of Program Wirausaha Wuda Vokasi (Dirjen Pendidikan Vokasi); 1st Place Chemical Engineering Essay Competition (Universitas Singaperbangsa Karawang); Funding Awardee of PKM-Penelitian Eksakta (Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi) [2019]; 1st Place Dharma Wacana Speech Competition (UDG VI-Telkom University); dan 1st Place Dharma Wacana Speech Competition (KSATRIA-UNY).

“Organisasi itu penting untuk menambah relasi dan mengasah soft skill yang akan mempermudah memasuki dunia kerja. Namun, satu hal yang terkadang dilupakan, tidak jarang kita terlalu fokus berorganisasi sehingga melupakan kewajibannya sebagai mahasiswa yaitu belajar. Maka, saya pun menggambarkan pendidikan dan organisasi itu bagaikan pintu dan kunci yang keduanya saling berkaitan dan harus memiliki porsi yang seimbang. Organisasi adalah  pintu-pintu informasi yang dapat kita gunakan sebagai gerbang memasuki dunia kerja tetapi untuk membukanya kita memerlukan kunci yaitu pendidikan, ilmu dan nilai yang baik sehingga kita dapat membuka pintu tersebut dan berkarya didalamnya. Dunia akan terlalu sempit jika hanya sekedar di kampus dan belajar, tapi juga akan percuma jika dunia kita berkutat hanya dengan manusia tanpa pengetahuan” pungkas Adeyani. (Lin-Humas)