,

Perluas Perbendaharaan Topik Riset Sejarah Diplomasi, Undip Undang Sejarawan dari UI

Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro– Semarang.  Pekan lalu, Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro kembali menggelar Workshop Metodologi Sejarah. Diskursus yang diketengahkan pada kesempatan ini adalah Sejarah Diplomasi.  Dr. Dhanang Respati Puguh, M. Hum., selaku Ketua Departemen Sejarah membuka workshop dengan harapan agar workshop ini dapat membuka cakrawala inspirasi para mahasiswa sejarah yang tengah berkutat dengan penyusunan proposal skripsi, tesis, atau disertasi.

Rabith Jihan Amaruli, S. S., M. Hum., yang didaulat sebagai moderator membuka dengan pengantar kritis terkait sejarah diplomasi, sebuah kajian yang saat ini sedang menemukan momentumnya. “Sejak perang berkecamuk di Ukraina pada Maret 2022 yang lalu, orang mulai ramai berpendapat, berdiskusi, dan menyampaikan argumentasi, tentang latar belakang perang antara Rusia dan Ukraina saat ini,” terang moderator yang kini menempuh pendidikan doktoral.

“Kalau kita melihat baik di televisi maupun di media sosial, beberapa akademisi Hubungan Internasional (HI), sejarawan, atau juga akun-akun sejarah di twitter misalnya, mulai membuka-buka kembali sumber-sumber sejarah tentang hubungan bilateral antara Indonesia dengan Rusia atau antara Indonesia dengan Ukraina. Beberapa perdebatan yang muncul adalah apakah Indonesia harus mendukung Rusia, ataukah Indonesia harus mendukung Ukraina, atau Indonesia harus berada dalam posisi netral.” Lanjutnya.

Dr. Linda Sunarti, M. Hum. merupakan dosen pada Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia yang memiliki concern pada Sejarah Asia Tenggara, khususnya pada aspek diplomasi. Hasil pemikiran beliau telah dipublikasikan secara umum, baik berupa buku, artikel, maupun proceeding, misalnya buku berjudul Persaudaraan sepanjang hayat? : mencari jalan penyelesaian damai konfrontasi Indonesia-Malaysia, 1963-1966 diterbitkan oleh Serat Alam Media pada 2014, artikel berjudul, “Preserving Javanese identity and cultural heritage in Malaysia,” terbit di Cogent Arts & Humanities pada 2021, dan masih banyak karya berharga lainnya.

Dr. Linda memberikan insight historis yang berharga terkait diplomasi pada zaman Hindu kuno. Misalnya, pada epos Mahabharata, Kresna berperan sebagai wakil khusus para Pandawa untuk melakukan perundingan dan menyelesaikan persoalan secara damai dengan para Kurawa sebelum perang pecah.

Selanjutnya, Dr. Linda juga memaparkan bentuk diplomasi yang tidak melulu berputar arena soft diplomacy, tetapi juga hard diplomacy bahkan diplomasi konfrontatif berupa ancaman juga menjadi bagian dari strategi diplomasi sebuah negara.

Seringkali, diplomasi dipersamakan dengan politik luar negeri (LN). Meskipun keduanya memiliki irisan, tetapi tidak berarti sama. Menurut Roy (1991), politik LN adalah keseluruhan hubungan LN suatu negara dan bentuk tujuan, serta kepentingan terbarunya perumusan suatu keputusan yang didasarkan atas penyesuaian antara kepentingan nasional dan situasi international yang mengelilinginya. Sementara itu, diplomasi merupakan bagian dari strategi  untuk mewujudkan politik LN, yaitu  memberikan mekanisme dan personalia bagi  pelaksanaan politik LN suatu negara.

Dalam paparan, Dr. Linda juga memberikan alternatif-alternatif topik yang dapat diteliti secara mendalam, di antaranya Diplomasi Tradisional (Antar-Kerajaan), Masa Revolusi (Linggarjati, Renville, dan KMB), Diplomasi Bebas Aktif (KAA dan GNB), Diplomasi Konfrontasi (Trikora), Diplomasi Ekonomi Orde Baru, Hubungan Bilateral, dan Diplomasi Maritim (Deklarasi Juanda, Unclos, dll). (Fanada Sholihah/ Sejarah)

Share this :

Category

Arsip

Related News