SEMARANG – Guna mendukung percepatan terwujudnya UNDIP sebagai universitas riset kelas dunia, Faklultas Psikologi UNDIP mengembangkan instrument psikologis bagi para peneliti untuk mengukur sejauh mana dukungan lingkungan organisasi memberikan dukungan untuk kegiatan riset, dan penelitian sampai pada publikasi ilmiah. Langkah tersebut melengkapi upaya lain yang sudah dilakukan untuk memperkuat pijakan menuju universitas riset kelas dunia.

Dekan Fakultas Psikologi UNDIP yang juga Ketua Tim Pengembangan Instrumen Psikologi Peneliti, Dian Ratna Sawitri SPsi MSi PhD, mengatakan pengembangan instrumen psikologis diperlukan untuk mengetahui seberapa jauh lingkungan organisasi memungkinkan para peneliti melakukan aktivitasnya. “Pengaruh lingkungan organisasi memiliki pengaruh yang signifikan, karena itu perlu kita teliti hal-hal apa saja yang bisa dipenuhi, apa yang belum optimal dana pa yang sudah ideal dan perlu dipertahankan,” kata Dian Ratna Sawitri, Senin (26/10/2020).

Tim yang beranggotakan Dian Ratna Sawitri (Ketua merangkap anggota), Harlina Nurtjahjanti SPsi MSi dan Anggun Resdasari Prasetyo SPsi MPsi juga didukung guru besar dari Griffith University Australia, Profesor Peter Creed. Ada dua output yang ditargetkan bisa diraih, yakni identifikasi terhadap lingkungan organisasi dalam mendukung riset dan inovasi, serta mencari instrument yang relevan untuk diterapkan.

Untuk tahap awal, kegiatan yang berlabel Perceived Research Environment Scale ini memakai 25 item dan 6 pilihan jawaban untuk megetahui mempersepsi lingkungan kerjanya dalam mendukung kegiatan riset. “Dengan penelitian ini, bisa diketahui apakah lingkungan kerja memberikan dukungan untuk atau tidak,” ungkapnya.

Menurut Sawitri, beberapa aspek yang ditinjau diantaranya aspek hubungan sosial yang terjalin dengan kolega seperti diskusi ide penelitian dengan rekan, positive reinforcement (penguatan positif) yang diperoleh seperti insentif publikasi ilmiah sertadukungan fasilitas laboratorium dan kepustakaan. Aspek lain yang penting diketahui adalah encouragement (dorongan) yang didapat dari lingkungan seperti adanya role model peneliti yang ada.

Hasil dari semua aspek yang diteliti kemudian dibuat angka rata-ratanya. Dari nilai rata-rata bisa didapatkan gambaran aspek apa yang masih kurang, mana yang sudah cukup serta mana yang sudah baik. Dengan demikian, interfensi yang dilakukan universitas untuk perbaikan jelas sasarannya.

Dari data yang ada, untuk sementara diperoleh gambaran di UNDIP dukungan lingkungan organisasi terhadap kegiatan riset sudah bagus. Yang perlu dikuatkan adalah pemerataan role model peneliti di setiap fakultas dan di level departemen. Hal ini harus dipahami karena konsepsi world class university dinilai dari keseluruhan elemen yang ada di universitas.

Penelitian Perceived Research Environment Scale di UNDIP dibiayai dana Non-APBN yang diperoleh melalui skema Riset Publikasi Internasional yang diprakarsai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNDIP. Output riset telah dipublikasikan dalam jurnal internasional bereputasi (terindeks Scopus), Journal of Psychoeducational Assessment, tahun 2020, yakni di volume 38 Halaman 195 – 208 dengan judul Development and Initial Validation of Perceived Research Environment Scale for Higher Education Academics.

Rektor UNDIP, Prof Dr Yos Johan Utama SH MHum, menegaskan dukungan Universitas Diponegeoro terhadap kegiatan riset terus ditingkatkan. Dari internal saja dana penelitian dari sumber PNBP ditingkatkan dari Rp13 miliar di tahun 2019 menjadi Rp16 miliar untuk tahun 2020. Sedangkan dana penelitian dari Kementerian naik dari Rp19 miliar (2019) menjadi Rp39 miliar untuk tahun 2020.

“Keberhasilan kegiatan penelitian salah satunya dilihat dari jumlah publikasi ilmiah di jurnal internasional bereputasi, yang juga digunakan oleh pemeringkatan di tingkat internasional. Dibandingkan tahun 2015 dengan 245 artikel di Scopus, meningkat menjadi 1.736 pada 2018, 1.610 pada 2019, serta 1.049 jika dihitung per 5 Oktober 2020,” kata Prof Yos Johan, saat Dies Natalis ke-63 UNDIP.

Dia berharap hasil penelitian tidak hanya berhenti pada publikasi di jurnal ilmiah saja, tetapi juga pada proses hilirisasi yang diawali dengan Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Sebagai gambaran jumlah pendaftaran HKI dari para peneliti UNDIP untuk 2016 hanya 98, namun di tahun 2020 sudah melonjak menjadi 275 HKI.