SEMARANG – Ketua Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (UNDIP), Dr. Dhanang Respati Puguh, M. Hum., berpendapat sosok dhalang dan seniman tradisi Ki Nartosabdho adalah legenda kesenian tradisi yang karya-karyanya penting untuk diketahui generasi muda. Karya-karya seni yang dihasilkan Ki Nartosabdho sangat monumental dan layak untuk diwariskan kepada generasi penerus.

Dalam konteks pakeliran atau pergelaran wayang kulit, Nartosabdho melakukan perubahan unsur-unsur pakeliran untuk menegaskan identitas pedhalangan-nya, baik dalam narasi dan dialog (catur), sulukan, gendhing, keprakan, tata panggung, dan penggarapan karakter wayang. Dhalang yang lekat dengan Wayang Orang Ngesti Pandowo Semarang ini juga berani memasukan karawitan dari daerah lain dalam pementasannya.

Yang fenomenal adalah keberaniannya membuat lakon banjaran atau biografi. Pementasan banjaran menjadi popular sejak diperkenalkan oleh Nartosabdho pada 1977, dan dikenal masyarakat sebagai cerita tokoh wayang dari proses kelahiran sampai kematiannya. Lakon banjaran sempat menjadi trend bukan saja dalam pementasan wayang kulit, namun juga di pementasan wayang orang.

Sebagai seniman tradisi, Nartosabdho yang menginisiasi pendirian Paguyuban Karawitan Condhong  Raos pada 1 April 1969 juga banyak menciptakan dan menggubah repertoar gendhinggendhing Jawa yang antara lain digunakan untuk mendukung pertunjukan wayang kulitnya. Sampai dengan akhir hayatnya (1985) tidak kurang dari 600 gendhing, baik repertoar gendhing klenengan, gendhing beksan, gendhing pakeliran, gendhing pahargyan, dan gendhing untuk iringan film yang diciptakannya.

Dengan karya cipta dan gubahannya, ia telah memperkaya repertoar gendhing-gendhing Jawa. Dengan kekaryaannya itu, Nartosabdho merupakan komponis produktif yang menjadi pilar penyangga kehidupan karawitan Jawa gaya Surakarta.

Menanggapi rencana pendirian patung Ki Nartosabdho di dekat Titik Nol Semarang, Dhanang Respati Puguh yang banyak melakukan kajian tentang sejarah kesenian ini mengatakan sebagai sesuatu yang sudah seharusnya. Pembuatan patung Ki Nartosabdho diinisiasi oleh budayawan Jaya Suprana, dan pembuatannya dilakukan oleh pematung yang juga kartunis Yehana SR.

“(Patung) Itu sebagai bentuk penghormatan sekaligus sebagai monumen pengingat terhadap seniman besar yang menjadi kebanggaan masyarakat Jawa Tengah. Bahkan untuk Indonesia juga. Saya kira perlu dipertimbangkan juga nama beliau diabadikan menjadi nama jalan di Kota Semarang,” kata Dhanang Respati Puguh, Senin (22/3/2021).

Memang penghormatan terhadap Ki Nartosabdho sudah ada berupa prasasti nama gedung tempat Wayang Orang (WO) Ngesti Pandowo bermarkas di kawasan Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Kota Semarang. Juga sudah ada Taman Nartosabdho di  Klaten Jawa Tengah, tempat kelahiran sang maestro. Namun, tegas Dhanang, peneraan menjadi nama jalan juga layak dillakukan.

Nartosabdho lahir di Klaten pada 25 Agustus 1925, dengan nama Sunarto. Terlahir sebagai anak bungsu dari tujuh bersaudara Parta Tanaya (seorang mranggi atau pembuat warangka keris) dan Ny Kencur. Ayah Sunarto selain piawai membuat warangka keris, juga memiliki ketrampilan dalam bidang karawitan. Ketika berumur tiga tahun, dia dan kakaknya yang bernama Mardanus diajak ayahnya dalam kegiatan klenengan mengiringi para dalang Klaten yang sedang pentas.

Kebiasaan ini terus berlanjut sampai Sunarto mulai menempuh pendidikan formal sekolah dasar (SD). Sunarto kecil juga belajar menari kepada RM Suraji, juga belajar secara otodidak melukis, memainkan gitar dan biola, bahkan menyanyikan lagu-lagu keroncong.  Dengan berbekal kemampuan dalam memainkan gitar, biola, dan menyanyi keroncong, kemudian ia bergabung dengan Orkes Sinar Purnama.

Perjalanan berkeseniannya makin intens setelah bergabung dengan kelompok-kelompok kethoprak dan wayang orang panggung yang tumbuh subur sejak periode 1920-1930-an. Tidak kurang dari 10 perkumpulan diikutinya. Melalui pengembaraan ini, pengetahuan dan ketrampilannya dalam karawitan Jawa semakin meningkat.

Patung Ki Nartosabdho di depan Hotel Metro Semarang. (Foto: Ist)

Pada 1945 Sunarto bergabung dengan perkumpulan wayang orang Ngesti Pandowo yang dipimpin Sastrosabdho. Ia diterima sebagai niyaga (penabuh gamelan) dengan spesialisasi memainkan instrumen kendhang. Terkesan dengan bakat dan kemauannya, Sastrosabdho mendorong Sunarto belajar secara informal di Konservatori Karawitan Indonesia Surakarta yang baru saja didirikan (1950). Pada saat bergabung di Ngesti Pandowo, Sunarto membawa perubahan dalam karawitan sehingga tidak monoton.

Karena kepiawaiannya, Sastrosabdho memberi penghargaan kepada Sunarto dengan nama baru Nartosabdho. Ngesti Pandowo di bawah pimpinan Sastrosabdho dan pimpinan karawitan Nartosabdho merupakan teater kitsch yang benar-benar inovatif dan gemerlapan. Dan, Presiden pertama RI, Bung Karno, pernah menikmati kedahsyatan permainan kendhang Nartosabdho pada pentas Ngesti Pandowo.