,

Jurnal Prodi Doktor Sejarah Undip, Gelar 3rd Annual Forum JMSNI

28 April 2021 menjadi momentum berharga bagi Journal of Maritime Studies and National Integration (JMSNI), sebuah jurnal yang concern pada isu-su kemaritiman dan dinamika integrasi bangsa. JMSNI menggelar acara tahunan yang ke-3 (3rdAnnual Forum). Setiap tahun, JMSNI secara konsisten menghelat seminar internasional dengan menghadirkan pembicara dari beragam disiplin. Tujuannya adalah memberi ruang, baik bagi pengelola jurnal maupun audiens umum untuk saling bertukar pengalaman dan strategi dalam mengelola sebuah jurnal agar terindeks lembaga internasional, misalnya Scopus, Thomson Reuters, the ACM Digital Library, dan lain-lain. Acara ini dihadiri oleh audiens dari berbagai universitas, antara lain University of Brunei Darussalam, Universiti Sains Malaysia (USM), serta Universitas Diponegoro.

JMSNI, sebagai jurnal internasional yang dikelola oleh Program Studi Doktor Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (FIB Undip) sedang meniti proses menuju indeksasi Scopus. Dekan FIB Undip, Dr. Nurhayati, M. Hum., dalam sambutannya turut mendukung JMSNI menuju indeksasi internasional. “Semoga JMSNI bisa segera terindeks oleh Scopus dalam satu atau dua tahun ke depan, mengingat beragam upaya peningkatan kualitas artikel maupun managemen jurnal sudah dilakukan secara kontinu oleh JMSNI,” tuturnya.

Sebagai upaya peningkatan kualitas pengelolaan jurnal, JMSNI mengundang Editor in Chief jurnal International Journal of Asia Pacific Studies, Malaysia, Prof. Dr. Ooi Keat Gin yang memberikan materi mengenai “The Vision-Mission in Developing an Academic Journal towards Scholastic Excellence and Strategies for International Publication”.

Prof. Ooi menyampaikan pengalaman dan strategi yang bisa dilakukan oleh tim editorial dalam mengelola jurnal. “Pengelola jurnal sebaiknya dipilih dari kalangan akademis yang tidak egois (selfless person) dan mau bekerja keras. Mereka bekerja semata-mata untuk mengembangkan jurnal itu sendiri. Hal ini penting karena pekerjaan mengelola jurnal sarat dengan tanggungjawab yang tidak remeh. Mereka dituntut bekerja sesuai timeline penerbitan,” terangnya.

Dalam sesi diskusi, Noor Naelil Masruroh, M. Hum., selaku section editor JMSNI menanyakan terkait proses review yang dilakukan Prof. Ooi terhadap sebuah artikel.  Menurut Prof. Ooi artikel dapat dengan mudah ditebak kejelasannya dari bagian preambule (pendahuluan). “Artikel yang berkualitas harus memiliki tesis dan argumentasi yang jelas, bukan sekadar narasi tanpa tujuan. Ibarat seorang pengacara yang meyakinkan kepada hakim bahwa kliennya tidak bersalah maka perlu ditunjukkan argumentasi yang menyakinkan sedari awal,” jawabnya.

Kandidat Doktor Sejarah Undip, Arido Laksono juga mengajukan pertanyaan mengenai kendala Bahasa dalam proses translasi dari Bahasa Indonesia ke Inggris, yang seringkali menjadi isu krusial dalam proses review. Prof. Ooi menganjurkan penulis untuk mengirim artikel ke Lembaga Profreading professional sebelum di-submit ke jurnal Internasional, hal ini biasa dilakukan mengingat Bahasa Inggris bukanlah mother tongue kita.

Sementara Prof. Dr. Singgih Tri Sulistiyono, M. Hum., selaku Editor in Chief dari JMSNI sekaligus moderator mengatakan bahwa Prof. Ooi berhasil membuka mata mengenai pentingnya menghimpun jaringan yang solid untuk mengembangkan sebuah jurnal agar dilirik oleh akademisi dari berbagai belahan dunia.  Senada dengan Prof. Singgih, Prof. Dr. Yety Rochwulaningsih, M. Si., selaku ketua program studi Magister dan Doktoral Sejarah juga menegaskan komitmen Prodi untuk menempuh berbagai upaya strategis demi mencapai visi JMSNI menjadi jurnal internasional bereputasi. (Fanada Prodi Sejarah/Linda Humas)

 

 

 

Share this :

Category

Arsip

Related News