“Hipertensi adalah suatu keadaan dimana tekanan darah pasien lebih dari 130/90 mmHG dan hipertensi itu ada yang sifatnya primer, artinya dari sananya memang hipertensi dan hipertensi  sekunder yang disebabkan oleh penyakit lain, misalnya gagal ginjal atau gagal jantung yang bisa menyebabkan hipertensi. Tetapi ada yang namanya faktor resiko, salah satu faktor resiko misalnya gemuk artinya kalau orang gemuk maka ia cenderung lebih mudah mengalami hipertensi daripada yang tidak gemuk, kebiasaan hidup kurang olah raga atau merokok juga merupakan faktor resiko hipertensi. Setelah puasa sebulan penuh lalu di momen lebaran pasti ada suguhan yang enak-enak seperti opor, ayam goreng, sambel goreng ati dan itu semua adalah makanan berlemak yang merupakan faktor resiko juga untuk mengalami hipertensi.” Hal tersebut disampaikan oleh dr. Andreas Arie Setiawan, Sp.PD-KKV dalam Talkshow Healthy Life Kerjasama RSND Universitas Diponegoro dengan Trijaya FM (20/5).

“Jika seseorang mengalami atau memiliki faktor-faktor resiko maka akan terjadi banyak hal, bisa penyempitan pada pembuluh darah, bisa penebalan pada didnding pembuluh darah, peradangan pada dinding pembuluh darah yang menyebabkan peningkatan tekanan darah lalu orangnya mengalami yang kita sebut sebagai hipertensi” lanjutnya.

Menurut dr. Andreas, hipertensi sekunder bisa hilang tapi hipertensi primer pengendaliannya dengan konsumsi obat.  Ada yang mengatakan minum obat itu bisa menyebabkan kecanduan obat, sebenarnya itu bukan kecanduan, sebab kecanduan berarti kita melakukan atau mengkonsumsi sesuatu yang tidak kita perlukan. Pada pasien hipertensi, obat diperlukan untuk mengendalikan hipertensi dan tidak perlu kuatir karena dengan minum obat secara teratur hipertensi akan terkendali. “Ini penting dan perlu dipahami karena hipertensi sendiri merupakan faktor resiko untuk terjadinya penyakit-penyakit yang lain, seperti penyakit jantung, stroke, penyakit pembuluh darah dan lain sebagainya jadi memang sebaiknya patut untuk dikendalikan tekanan darahnya supaya tidak terlalu tinggi” terangnya.

“Perubahan gaya hidup adalah salah satu solusi untuk mengendalikan hipertensi, olahraga bisa mengurangi resiko hipertensi, tentunya olahraga yang sifatnya aerobik dan konstan misalnya jalan, jogging atau sepeda statis, sekali olahraga paling tidak 20  sampai  dengan 30 menit  dan dilakukan seminggu 3 sampai 4 kali, selanjutnya menjaga pola makan, memperbanyak sayur dan buah. Bukan berarti berpantang makanan tertentu tapi juga tidak sebebas-bebasnya, artinya makanan yang seimbang dengan mengurangi makanan-makanan yang berlemak, obat bukan satu-satunya cara tetapi upaya lainnya bisa dilakukan dengan pengendalian diri melalui diet dan olahraga, serta menghentikan rokok bagi perokok” tutur dr. Andreas.

“Jangan takut dengan hipertensi, kalau ada faktor resiko seperti stres, kurang olah raga dan lain-lain, faktor resikonya bisa dikendalikan mulai sekarang dengan rajin cek tekanan darah dan kalau sudah ada hipertensi tidak perlu cemas karena itu bisa diatasi baik dengan olah raga, diet ataupun konsumsi obat yang bisa didiskusikan dan dikonsultasikan dengan dokter” pesannya. (Linda Humas)