Patah tulang atau fraktur bisa terjadi di bagian tubuh mana pun, meski umumnya disebabkan oleh benturan yang kuat, patah tulang juga bisa terjadi akibat benturan ringan bila tulang sudah mengalami pengeroposan, misalnya akibat osteoporosis. Patah tulang bisa ditangani dengan tindakan medis seperti pemasangan gips, hingga pembedahan atau operasi bagi kasus yang lebih parah.

“Patah tulang adalah kondisi yang terjadi ketika tulang patah, retak, atau pecah hingga berkeping-keping. Berbagai kondisi patah tulang tersebut dapat ditandai dengan rasa nyeri pada area yang mengalaminya, membengkak, dan sulit digerakkan”. Hal tersebut disampaikan oleh dr. Gana Adyaksa, M.Si. Med. Sp. OT, Dokter Spesialis Bedah Ortopedi  Rumah Sakit Nasional Diponegoro, Universitas Diponegoro dalam acara Talkshow Healthy Life kerjasama MNC Trijaya FM Semarang dengan RSND Undip, Kamis (10/6).

“Patah tulang karena trauma atau cidera biasanya yang paling sering terjadi disebabkan karena kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian, terbentur barang-barang atau kecelakaan kerja seperti terjepit mesin. Secara alamiah sebenarnya tulang bisa menyembuhkan diri dengan sendirinya tetapi sembuhnya itu kembali dalam keadaan normal atau tidak. Dalam setiap patah tulang ada resiko dan komplikasi lainnya sehingga perlu dilakukan tindakan medis” lanjutnya.

“Tanda-tanda patah tulang secara umum, keluhan awalnya adalah nyeri disertai dengan bengkak, terjadi deformitas, seperti bengkok, dan kegagalan fungsi. Kalau ada tanda-tanda mati rasa, tidak bisa digerakkan sama sekali bahkan kulitnya dicubit tidak terasa, itu salah satu tanda bahaya atau perlu diwaspadai” tuturnya.

Mengenai patah tulang tertutup dan patah tulang terbuka, ia menjelaskan bahwa patah tulang tertutup tidak tampak luka atau robek pada kulit di sekitar lokasi patah tulang. Sedangkan patah tulang terbuka adalah patah tulang yang disertai dengan luka atau robeknya pada kulit di permukaan daerah tulang yang patah. Ini yang mesti diperhatikan karena berisiko terjadi infeksi  yang sangat tinggi sehingga patah tulang terbuka harus segera diberi pertolongan. Sedangkan osteoporosis menurut dr. Gana, termasuk salah satu yang rentan terhadap patah tulang, karena tulangnya sudah cukup rapuh. Orang normal tulangnya cukup kuat dan mampu menahan berat badan, namun jika sudah memiliki osteoporosis atau kelainan tulang lainnya jika ada trauma sedikit saja bisa mudah patah.

dr. Gana menyampaikan setelah operasi, pada umumnya selalu diikuti dengan proses rehabilitasi, yang sering diketahui adalah Fisioterapi. Fisioterapi sebenarnya adalah rangkain proses yang memiliki banyak sekali manfaatnya antara lain membantu mempercepat penyembuhannya, mempercepat atau menggembalikan kepada fungsi semula atau rehabilitasi medik. Jadi bagaimana caranya setelah operasi, misalkan habis dipasang pen, orang tersebut bisa kembali ke aktivitas sebelumnya seoptimal dan secepat mungkin.

“Tubuh kita, tulang atau anggota gerak ini agar dimanfaatkan dan dijaga sebaik mungkin, harus selalu berhati-hati dalam melakukan aktivitas karena trauma atau cidera itu selalu bisa terjadi dimanapun dan kapanpun. Jangan sampai salah mengenali dan melakukan pengambilan keputusan mengenai patah tulang secara tepat, lebih baik dibawa ke medis untuk mendapatkan penanganan secara pasti” pesannya. (Linda Humas)