Semarang (29/7/2021) – Service English Unit (SEU) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro menyelenggarakan rangkaian Online Sharing dalam 5 sesi yang diadakan setiap dua minggu sekali.  “Culture and Language: Issues, Perspectives, and Prospects” sesi ke-2 ini menghadirkan dua pembicara yaitu Heriyanto, Ph.D, Dosen S1 Ilmu Perpustakaan FIB Undip, dan Ayu Ida Savitri, S.S., M.Hum., Dosen S1 Sastra Inggris FIB Undip. Webinar ini diselenggarakan pada 29 Juli 2021 pukul 13:00-14:30 WIB secara online menggunakan aplikasi Zoom.

Sekretaris SEU FIB Undip, Arsi Widiandari, S.S., M.Si., dalam sambutannya mengungkapkan tujuan dari rangkaian Online Sharing ini adalah sebagai wadah berbagi ilmu mengenai bahasa dan budaya. “Sebagai akademisi universitas, kami menghimbau orang-orang khususnya para mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris, karena skill tersebut merupakan persyaratan dasar dalam melanjutkan pendidikan atau mencari kerja,” ungkap Arsi.

Pembicara pertama, Heriyanto, Ph.D, menyampaikan materi bertema “Bahasa Inggris untuk Berkarir di Dunia Akademik”. Menurutnya, semua bahasa dapat dipelajari asalkan kita memiliki minat dan kesenangan dengan bahasa. Mengawali karirnya sebagai pustakawan, Heriyanto mengungkapkan bahwa bekerja di lingkungan akademis membuatnya dituntut untuk selalu mengasah ilmu termasuk kemampuan bahasa Inggris. Dengan membiasakan diri berbicara menggunakan bahasa Inggris, kemampuan tersebut mengantarkan Heriyanto pada kesempatan studi di luar negeri dan relasi internasional yang lebih besar.

Sosok yang melanjutkan studi S2 melalui jalur S2 Australian Development Scholarship ini menyebutkan banyak manfaat dari mempelajari bahasa Inggris, antara lain: mengikuti trending ilmu pengetahuan, mengembangkan perspektif, membuka pintu untuk studi lanjut di luar Indonesia, melewati entry requirement dalam mendaftar sekolah atau pekerjaan. “Memang tidak mudah, permasalahan yang sering saya alami adalah pronunciation karena pelafalan saya tidak sama dengan native speaker, tercampur dengan logat bahasa daerah yaitu bahasa Jawa. Namun apapun model tes yang dijalani, dasarnya tetap bahasa Inggris jadi memang harus sering menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari,” tutur Heriyanto.

Materi kedua dengan tema “English as a Foreign Language: Bagaimana Pembelajar Menggunakan Bahasa Inggris dan Menyikapi English Proficiency Test?” disampaikan oleh Ayu Ida Savitri, S.S., M.Hum. Ayu Ida berkata bahwa language performance sangat dipengaruhi oleh lingkungan, karena ilmu bahasa harus selalu dipraktekkan agar tidak hilang. Di Indonesia sendiri, masyarakat memiliki bahasa daerah masing-masing dan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, sehingga hanya sedikit kalangan yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. Situasi ini masuk dalam kategori English in expanding circle, di mana penggunaan bahasa Inggris bukanlah bahasa kedua (bilingual active), sehingga agak sulit untuk mempraktekkan bahasa Inggris dalam sehari-hari. Walaupun demikian, orang-orang yang aktif dalam dunia akademis dibutuhkan untuk upgrade kemampuan bahasa Inggris, salah satunya dengan mengikuti English Proficiency Test untuk mengukur pengetahuan dan kemampuan bahasa Inggris dalam bentuk mendengar (listening), membaca (reading), menulis (writing), dan berbicara (speaking).

Dosen yang tengah melanjutkan studi S3 Linguistik di Universitas Indonesia ini mengatakan bahwa kita tidak perlu berkecil hati jika pelafalan dan logat kita tidak sama dengan native speaker. “Bahkan bahasa Inggris di UK, US, atau Australia saja berbeda-beda walaupun root-nya sama yaitu bahasa Inggris. Apalagi kita dari Asia yang tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa ibu,” kata Ayu Ida.

Tips untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris yaitu dengan menggunakan, mempelajari, dan mempraktekkan bahasa Inggris secara rutin. Kemudian dalam mempelajari bahasa Inggris sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan, contohnya untuk persyaratan tes melamar suatu jenis pekerjaan atau beasiswa, sehingga fokus pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan tes. “Yang terakhir, mengikuti kelas bahasa Inggris sebelum tes dapat membantu untuk mengetahui di mana level kemampuan kita, sehingga kita tahu mana yang harus diperbaiki,” imbuh Ayu Ida.

Moderator dalam Online Sharing SEU FIB Undip sesi ke-2, Rifka Pratama, S.Hum., M.A. yang merupakan Dosen S1 Sastra Inggris FIB Undip menyimpulkan bahwa bahasa adalah investasi. Dalam investasi perlu adanya usaha dan pengorbanan berupa waktu, tenaga, pikiran, dan biaya. Usaha tersebut yang nantinya akan menjadi modal dalam belajar bahasa yang tentunya harus dilengkapi dengan aplikasi dalam kehidupan sehari-hari agar semakin fasih. (Titis – Public Relations)