Program Studi (Prodi) S1 Sejarah Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro menyelenggarakan kuliah umum bertajuk Wayang di Televisi dan Internet (28/9). Pada kesempatan ini, Prodi S1 Sejarah mengundang Dr. Jan Mrazek dari Department of Southeast Asian Studies, National University of Singapore (NUS) dan dimoderatori oleh Dr. Dhanang Respati Puguh.

Acara dibuka oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Dr. Nurhayati, M. Hum., dalam sambutannya ia menyampaikan bahwa topik yang diusung dalam kuliah umum kali ini sangat menarik, karena berkaitan dengan tantangan bagi kesenian-kesenian tradisi di era Globalisasi. “Pertemuan hari ini semoga dapat menjawab berbagai pertanyaan mengenai  berbagai pergulatan yang terjadi ketika kesenian tradisional atau wayang yang di dalamnya mengandung nilai-nilai filosofis dihadirkan di ruang kekinian” tutur Dekan FIB.

“Prodi sejarah adalah salah satu prodi unggulan yang diharapkan mampu melestarikan budaya, seni dan kegiatan-kegiatan lain yang berkaitan dengan sejarah serta aspek-aspek tradisional. Prodi Sejarah diharapkan dapat mengemas hal-hal yang bersifat lokal menjadi global. Terima kasih kepada Pak Jan Mrazek yang telah berkenan membagi pengetahuan kepada para mahasiswa” lanjutnya.

Pada kesempatannya Dr. Jan Mrazek menyampaikan pengalamannya ketika mulai meneliti wayang. Pada tahun 1992, salah satu  televisi komersial di Indonesia mulai menyiarkan pertunjukan wayang semalam suntuk secara langsung dua kali dalam seminggu.

“Pertemuan antara wayang dengan media tidak bisa dimaknai sebagai pertunjukan biasa karena di dalamnya terkandung pergulatan identitas. Meskipun pihak televisi mengaku hanya memindahkan wayang ke televisi, namun sejak ditampilkan di televisi, dalang tentu ingin tampil lebih baik. Keinginan untuk mengikuti selera penonton sering kali dianggap bertentangan dengan pakem-pakem dalam seni pewayangan sehingga menimbulkan perdebatan. Kemasan pertunjukan wayang di televisi juga kemudian diikuti oleh dalang-dalang di desa, sehingga terjadi perkawinan antara wayang dan televisi. Wayang di televisi menjadi lebih Jawa ketika muncul stasiun televisi komersial di berbagai daerah termasuk Yogyakarta pada 2005″ terangnya.

Lebih lanjut menurut Dr. Jan Mrazek, kemunculan wayang di televisi sebenarnya telah membuktikan bahwa wayang memiliki jati diri yang sangat terbuka. Wayang merupakan bentuk kebudayaan yang mendapatkan pengaruh dari India dan terus mengalami perkembangan dari masa ke masa sehingga sangat wajar jika kemudian muncul pertunjukan wayang dalam berbagai kemasan. Sebelum disiarkan di televisi, wayang telah disebarluaskan melalui rekaman kaset dan siaran radio. Bagi penonton pertunjukan wayang di televisi memiliki kelebihan sekaligus kekurangan. Kekurangan pertunjukan wayang di televisi adalah ketiadaan interaksi antarpenonton. Suasana pertunjukan yang dipenuhi penonton tentu tidak dapat dirasakan ketika menonton wayang melalui media televisi. Meskipun demikian, penonton dapat menonton pertunjukan wayang dimanapun dan tidak perlu khawatir kehujanan.

Pada perkembangan selanjutnya muncul media internet terutama platform Youtube yang juga menjadi media penyiaran pertunjukan wayang. Dalam platform tersebut muncul ribuan rekaman pertunjukan wayang dalam berbagai kemasan. Kemunculan media baru internet telah memungkinkan wayang dapat disaksikan oleh masyarakat luar dimanapun mereka berada, termasuk di luar negeri. Selain itu, penonton juga dapat berinteraksi dan menyampaikan kesan-kesan mereka mengenai pertunjukan wayang melalui kolom komentar. Berbagai platform di media sosial yang memuat informasi tentang wayang juga memudahkan para peneliti dalam penelusuran sumber atau data penelitian. (Rafngi Sejarah/Linda Humas)