“Webinar ini diharapkan bisa menjawab pertanyaan mengenai pembelajaran tatap muka, karena banyak orang tua yang masih was-was terutama mengenai perkembangan virus Covid-19. Untuk itu kita semua mesti mendukung langkah-langkah pemerintah, sekolah dan kampus terutama doa-doa semoga apa yang dicita-citakan tercapai dan pandemi ini segera berakhir. Mudah-mudahan yang disampaikan oleh narasumber  akan memberikan solusi dan manfaat bersama mengenai pembelajaran tata muka di era pandemi” Hal tersebut disampaikan oleh Asih Yos Johan Utama, SH. CN., selaku Ketua Dharma Wanita Persatuan Universitas Diponegoro dalam acara Webinar DWP Undip dengan tema Kupas Tuntas Dampak Pembelajaran Tatap Muka di Era Pandemi (30/9).

Sementara dalam sambutannya Rektor Undip, Prof. Dr. Yos Johan Utama, SH. M.Hum menyampaikan dampak pandemi sangat luas, hingga terjadinya banyak korban yang meninggal, namun pelan-pelan saat ini sudah terjadi penurunan yang sangat signifikan dari serangan Covid-19. Isolasi mandiri sudah mulai kosong begitu pula dengan kamar-kamar rumah sakit juga kosong. Tetapi ketika penurunan ini terjadi, harus diingat bahwa masih ada di tempat-tempat lain yang masih memiliki intensitas kegawatan Covid-19.

“Mahasiswa dan dosen mungkin sudah jenuh dengan kegiatan belajar secara daring ini, berlama-lama di depan layar dan ada mahasiswa yang kesulitan mencari sinyal. Sekarang, ketika sudah mulai ada upaya-upaya melaksanakan penyelenggaraan pembelajaran tatap muka tentu ada perasaan was-was karena ada ketakutan-ketakutan. Undip telah mengatur dengan adanya Surat Edaran Rektor, harus melakukan seleksi dan masih sangat hati-hati. Kelas yang biasanya diisi 70 orang hanya boleh diisi 20%. Bahkan yang boleh mendaftar yang sudah di vaksin dan hanya yang memiliki KTP Semarang” ungkapnya.

“Betapa banyak proses yang harus dilakukan karena di satu sisi pola pembelajaran tatap muka ini mengandung risiko-risiko, seperti kematian. Bahkan untuk menjaga hal tersebut, Undip meminta surat ijin dari orang tua. Ada beberapa hal yang kita tidak bisa memastikan dalam menghadapi covid ini, misalnya kemunculan klaster baru.  Banyak variabel dan faktor yang  bisa kita bahas dalam webinar ini untuk menjawab mengenai dampak dari  pembelajaran tatap muka di era pandemi” jelas Rektor.

Pada kesempatannya Dr. Muhdi, SH., M.Hum (Rektor Universitas PGRI Semarang) menyampaikan materi mengenai Kesiapan Sekolah Dalam Pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka. Tujuan pendidikan adalah berkembangnya potensi peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis, bertanggungjawab. Di era digital atau revolusi industri, sehebat atau sepintar apapun seseorang pada akhirnya untuk menjadi orang sukses ujungnya adalah soft skill, dan soft skill yang sangat penting antara lain kemauan belajar, kemampuan belajar, kolaborasi, kemadirian dan kreativitas.

“Upaya yang dilakukan oleh guru atau sekolah dalam mengatasi masalah Pendidikan Jarak Jauh atau PJJ diantaranya dengan mengikuti pembelajaran di balai desa atau tempat lain untuk memperoleh jaringan internet, guru kunjung dengan siswa berkelompok belum tentu lebih baik atau aman dari pada disekolah dengan jumlah terbatas. Dampak PJJ selama pandemi corona berisiko putus sekolah, terkendala tumbuh kembangnya anak, baik dari kognitif maupun karakter serta perkembangan psikososial  dan kekerasan-kerasan dalam rumah tangga” tuturnya.

Menurutnya mengenai apakah PJJ/BDR apakah aman bagi siswa, itu tergantung keluarga dan lingkungannya. PJJ/BDR juga memungkinkan siswa di rumah akan bermain bersama, berkerumun dan tidak memakai masker tanpa pengawasan, terlebih bagi siswa dari keluarga menengah ke bawah.

“Solusi yang paling rasional adalah dilakukan pembelajaran campuran atau blended learning yang dilakukan dengan menjalankan protokol kesehatan ketat serta buka-tutup secara dinamis dan flesibel.  Sehat adalah utama, disamping sehat pendidikan juga penting. Di masa pandemi ini secara bertahap tatap muka harus dimulai dengan catatan sekolah sesuai dengan SOP dan ketat pada prokes. Selanjutnya melakukan kerjasama dengan semua pihak, antara orang tua, sekolah dan masyarakat, artinya mari bersama-sama saling mengingatkan kedisiplinan dan ketaatan pada prokes” terang Dr. Muhdi.

Selanjutnya dr. M. Syarofil Anam, MSi. Med., SpA (Dosen Fakultas Kedokteran Undip) membahas mengenai Aspek Kesehatan Anak Dalam pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka.

“Prinsip kebijakan pendidikan di masa pandemi Covid-19 telah menjadi keputusan bersama, kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga, dan masyarakat merupakan prioritas utama dalam menetapkan kebijakan pembelajaran. Sekolah di masa pandemi, pembelajaran tatap muka dipertimbangkan jika parameter terpenuhi, antara lain wabah telah terkendali, menunjukkan tren penurunan kasus, sistem kesehatan siap untuk merawat kasus, faskes siap dengan infrastruktur yang mendukung, sekolah siap menjalankan protokol kesehatan dan tenaga pengajar dan seluruh sumber daya terkait terbukti tidak terpapar virus dan telah divaksin” jelasnya.

Kesimpulan materi dr. Syarofil adalah anak merupakan vulnerable person yang harus dilindungi haknya, Covid-19 dapat mengenai anak dan dapat menyebabkan kondisi yang serius, upaya pembukaan sekolah hendaknya memperhatikan kepentingan anak serta melibatkan orang tua dalam setiap langkah penerapannya, dan prinsip protokol kesehatan harus dimengerti anak dengan edukasi disesuaikan dengan tahapan perkembangannya.

“Kesehatan tidak hanya urusan tenaga kesehatan tetapi kita semua. Kesehatan dan hak untuk hidup adalah hak utama bagi anak, dari sisi kesehatan sebagai orang tua kita harus mencontohkan prokes pada anak-anak, misalnya menggunakan masker” pungkasnya. (Linda-Humas)