Tiga Calon Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Diponegoro melaksanakan presentasi makalah ilmiah yang diselenggarakan oleh Senat Akademik (SA) Universitas Diponegoro, Rabu (25/5). Para calon guru besar tersebut antara lain  Dr. Ir. Windu Partono MSc. (Teknik Sipil), Dr. Ir. R. Siti Rukayah M.T. (Teknik Arsitektur), dan Ir. Mochamad Arief Budihardjo, S.T., M.Eng.Sc., Ph.D., IPM (Teknik Lingkungan).

Dalam presentasinya, Dr. Ir. Windu Partono MSc. menyampaikan makalah dengan judul “Mengembangan Peta Mikrozonasi Gempa sebagai Upaya Identifikasi Wilayah Rawan Gempa”. Pengembangan atau pembuatan Peta Mikrozonasi Gempa Kota Semarang sangat diperlukan sehubungan dengan keberadaan lima sumber gempa sesar dangkal yang berdekatan dengan Kota Semarang. Kelima sumber gempa tersebut adalah Sesar Weleri, Sesar Semarang, Sesar Demak, Sesar Purwodadi dan Sesar Rawapening. Pengalaman tiga peristiwa gempa Yogyakarta 6,3 Mw tahun 2006, Pidie Jaya Aceh 6,5 Mw tahun 2016 dan Palu 7,4 Mw tahun 2018 memberikan pelajaran tentang pentingnya mengkaji potensi bahaya gempa akibat sumber gempa yang terdapat di daratan. Jumlah kurban dan kehancuran infrastruktur akibat ketiga peristiwa gempa tersebut menunjukkan gempa dengan kekuatan sedang dengan episenter di daratan berpotensi merusak dan menyebabkan kurban yang cukup besar.

“Kajian terhadap potensi bahaya gempa Kota Semarang, dalam bentuk Peta Mikrozonasi Gempa, dapat dilakukan dengan membandingkan tingkat guncangan yang diprediksi akan dialami diseluruh wilayah akibat skenario gempa dari kelima sumber gempa tersebut dengan guncangan tanah yang direncanakan akan diterima Kota Semarang menurut peraturan gempa Indonesia (SNI 1726). Jika prediksi guncangan pada satu wilayah akibat satu skenario gempa lebih besar dari perkiraan guncangan menurut peraturan gempa, maka potensi bahaya gempa pada wilayah tersebut cukup besar. Hasil kajian terhadap dua sumber gempa terdekat Sesar Semarang dan Sesar Demak menunjukkan semua bangunan yang dibangun menggunakan SNI 1726:2019 diprediksi akan kuat menahan guncangan akibat skenario kedua sumber gempa tersebut dengan kekuatan mencapai 6,5 Mw” terangnya.

Sementara pada kesempatannya Dr. Ir. R. Siti Rukayah M.T. membawakan materi tentang “Arsitektur Heritage dan Kota Bersejarah di Pesisir Pantai sebagai Alat Prediksi Kota yang akan Tenggelam”.

“Kota-kota bersejarah di pesisir Utara Jawa telah ada dan tergambarkan pada peta abad 15. Jejak kota bersejarah dan bangunan kuno pada kota tersebut telah memberikan informasi penting tentang perubahan garis pantai dan laju amblesan tanah yang telah terjadi. Keberlanjutan riset ini akan melengkapi peta amblesan dan peta rob serta prediksi kota-kota pesisir yang akan tenggelam. Arsitektur dan kota bersejarah di pesisir sedang menghadapi bencana amblesan tanah” tuturnya.

Lebih lanjut ia mengatakan hasil riset ini menjadi penting sebagai tindakan mitigasi bangunan terhadap bencana rob atau banjir laut serta sebagai upaya perlindungan kawasan bersejarah (UU No 11 Tahun 2010, Cagar Budaya). Hasil penelitian berguna sebagai pelengkap kegiatan pemetaan pengukuran lahan oleh ahli teknik sipil, geodesi dan geologi. Sebagai temuan adalah perlunya model konservasi kawasan dan bangunan kuno yang mengalami fenomena rob dan penurunan tanah.

Upaya perlindungan bangunan kuno dan kawasan heritage dalam UU No 11 Tahun 2010, perlu mempertimbangkan problematika rob dan penurunan tanah. Hal ini dilakukan sebagai antisipasi dalam menghadapi ancaman tenggelamnya kota pesisir. Keberadaan situs-situs, peninggalan arkeologi maritim, arsitektur dan kota bersejarah yang berada di pesisir pantai utara Jawa ini menjadi penting bagi arsitek dan perancangan kota dalam melakukan konservasi arsitektur kawasan bersejarah yang tanggap terhadap amblesan tanah dan rob serta dalam merancang kota yang berkelanjutan.

Sementara Ir. Mochamad Arief Budihardjo, S.T., M.Eng.Sc., Ph.D., IPM membahas mengenai “Konsep Pengelolaan Sampah Perkotaan yang Berkelanjutan untuk Mendukung Implementasi Ekonomi Sirkular”. Konsep pengelolaan sampah yang berkelanjutan mampu mendukung pencapaian ekonomi sirkular. Namun demikian, transisi sistem dari ekonomi linier menuju ekonomi sirkular membutuhkan waktu, usaha dan tantangan yang cukup berat. Pola pengelolaan sampah konvensional masih didominasi pola ekonomi linier dengan menitikberatkan pada pengolahan sampah di TPA.

“Adanya potensi pencemaran akibat lindi dan gas metan yang berlebih keluar ke lingkungan perlu diatasi dengan mengembangkan material baru yang murah, mudah didapatkan, dan mudah diproduksi. Sampah dapat menjadi material yang berfungsi sebagai pelindung lingkungan dari pencemaran. Kemampuan proteksinya telah dibuktikan secara empiris di berbagai faktor dan kondisi lingkungan tertentu. Namun, potensi ini perlu ditelaah lebih lanjut untuk penggunaan material tersebut. Di sisi lain, pola pengelolaan sampah yang berkelanjutan dalam ruang lingkup ekonomi sirkular mulai dipromosikan secara besar-besaran karena keterbatasan TPA untuk menampung sampah di berbagai kota di Indonesia” ungkapnya.

Hal tersebut menurutnya  perlu menjadi perhatian agar periode transisi dari sistem linier ke sirkuler dapat berjalan dengan baik. Kampus/universitas merupakan tempat yang ideal sebagai percontohan transisi ini. Kampus dengan lingkup yang kecil dapat memberikan keteladanan bagi pemerintah kota untuk mengelola sampah dengan baik.  Pola pengelolaan sampah yang berkelanjutan juga terbukti mampu mengurangi gas rumah kaca yang diemisikan. (Lin-Humas)