Senat Akademik (SA) Universitas Diponegoro  menggelar Sidang Terbuka pada Selasa (6/12)) untuk menghormati empat guru besar yang telah resmi memasuki masa purna adi cendekia (purna tugas). Keempat guru besar tersebut adalah Prof. Dr. Sunarso, M.S. (Fakultas Peternakan dan Pertanian), Prof. Dr. Ir. Aziz Nur Bambang, M.S. (Fakultas Ilmu Perikanan dan Kelautan ), Prof. Dr. Nurdin Harry Kistanto, M.A. (Fakultas Ilmu Budaya), dan Alm. Prof. Ir. Edy Darmawan, M.Eng. (Fakultas Teknik).

Dalam sambutannya Rektor Undip Prof. Dr. Yos Johan Utama, S.H., M.Hum. menyampaikan hari ini merupakan hari yang sangat bersejarah bagi Undip, melaksanakan  tradisi akademik yakni  penglepasan purna tugas Guru Besar di lingkungan Undip atau Purna Adi Cendekia. Tradisi akademik ini merupakan bentuk penghormatan tertinggi dari Undip kepada para Guru besar yang purna tugas sebagai aparatur sipil negara. Penghormatan Undip ini diberikan atas segala jasa dan pengabdiannya selama menjalankan tugas tridharma perguruan tinggi di Undip dan wujud dari sikap kesantunan dan penghormatan  Undip terhadap seseorang yang guru terlebih telah berjasa dalam pengembangan intitusi.

“Para Guru besar telah memberi teladan upaya yang tiada henti  dan bersungguh sungguh dalam mengembangkan kompetensi ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi umat manusia, menulis buku, penelitian, jurnal internasional dan bahkan berkelas dunia namun tetap tawadhu dalam berperilaku” ungkap Prof. Yos.

Lebih lanjut Rektor mengatakan ilmu-ilmu bermanfaat yang telah para profesor ajarkan kepada para mahasiswa, tentu saja telah banyak membantu menyelesaikan berbagai masalah yang mendera negeri ini, dan segala ilmu yang telah professor ajarkan, kelak menjadi  amal jariah yang akan terus mengalir pahalanya bagi para professor.

“Purna tugas sebagai aparatur sipil negara tidak hanya sebagai tanda pembatasan kedudukan, namun lebih dari itu pasca purna tugas semakin terbuka luas ladang pengabdian yang akan diberikan untuk nusa, bangsa, negara dan agama. Bahkan Undip membuka kesempatan yang menjadi hak para professor apabila berkeinginan untuk tetap mengabdi di Undip melalui jalur kontrak penghargaan” jelasnya.

Pada kesempatannya, Prof. Narso membahas mengenai Penggemukan Sapi Potong Tanpa Rumput. “Complete-feed merupakan ransum lengkap yang telah disusun untuk memenuhi kandungan zat pakan sesuai kebutuhan ternak yang berisi sumber pakan kasar dan konsentrat” tuturnya.

Ia menjelaskan pemberian pakan ransum complete feed dalam model feed lot dapat meningkatkan pertambahan bobot badan harian terbaik rata-rata mencapai 1,51 kg pada sapi peranakan Simental di kabupaten Semarang, 0,97 kg pada sapi peranakan Friesian Holstein (PFH) di kota Semarang, dan 1,54 kg/ekor/hari sapi peranakan Simental di Blora, lebih baik dibandingkan dengan rata-rata kebiasaan petani peternak pada umumnya.

Sementara, Prof. Aziz dalam pidatonya membahas mengenai Pemberdayan Ekonomi Masayarakat Pesisir Teori Dan Terapannya. Menurutnya potensi perikanan kelautan di perairan Indonesia cukup besar.  Penyebab  kemiskinan yaitu ketidakberdayaan, kerawanan atau kerentanan, kelemahan fisik, kemiskinan, dan keterasingan. Penyebab kemiskinan tersebut diistilahkan sebagai deprivation trap.

“Sasaran utama pembangunan tidak lain agar masyarakat makin sejahtera. Program pemerintah yang berdampak langsung pada perekonomian masyarakat pesisir, salah satunya adalah PEMP dan PNPM mandiri kelutan dan perikanan. Untuk itu maka dalam pelaksanaan pemberdayaan ekonomi di masyarakat pesisir, diperlukan pembangunan di bidang lain yang dapat mendukung keberhasilan program tersebut, antara lain pembangunan di bidang sarana dan prasarana pelabuhan, tpi, industri, sarana perekonomian seperti pasar lokal dan sebagainya” terang Prof. Aziz.

Sedangkan Prof. Nurdin membawakan tema pidato mengenai Generasi Millennial, Bergaya Hidup Digital. “Millennials atau Gen Y adalah mereka yang pertama kali memasuki angkatan kerja pada awal milenium baru, generasi paling terdidik, dan milenial  terdiri dari 75% angkatan kerja global pada 2025. Dalam masyarakat penuh automasi dan dorongan teknologi, milenial menghadapi tataran perubahan tak terkirakan 60 tahun yang lalu, dibanjiri fakta, data, buku, video, program, yang menghubungkannya dengan kegiatan dan pekerjaannya” pungkas. Prof. Nurdin.  (Lin-Humas)

Share this :