SEMARANG – Program studi (Prodi) yang ada di Departemen Pertanian (DEPTAN) Fakultas Peternakan dan Pertanian (FPP) Universitas Diponegoro (UNDIP) mulai membekali mahasiswanya dengan pengetahuan mengenai digital farming yang menggunakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dalam melakukan kegiatannya. Kegiatan on campus dilakukan melalui kuliah umum oleh para ahli dalam bidangnya dan praktisi yang telah sukses dalam mengelola bisnis pertanian modern. Kegiatan tersebut dimaksudkan untuk mendekatkan pemahaman para mahasiswa ke dunia kerja yang pada saat ini sarat dengan aplikasi digital, termasuk digital farming. Disamping itu, pembekalan juga dilakukan melalui program pengiriman mahasiswa ke kampus-kampus di negara pertanian maju seperti Jepang, China dan Taiwan. Departemen Pertanian FPP UNDIP telah memiliki jaringan utama kerjasama terutama dengan Kanagawa University di Jepang dan beberapa university terkemuka di Taiwan seperti Asia University, dan Pingtung National University of Science and Technology. Demikian keterangan Ketua DEPTAN FPP UNDIP, Didik W. Widjajanto, PhD., Sabtu (6/3/2021).

Menurut Didik, pengetahuan tentang pertanian digital akan menjadi dasar bagi berbagai konsepsi penyediaan pangan hayati di masa depan. Dia meyakini berbagai konsep seperti smart farming, urban farming maupun precision farming semuanya berkait dengan ketrampilan digital. “Karena belum ada mata kuliah yang spesifik, transfer pengetahuannya melalui kegiatan seminar, kuliah umum, pemagangan maupun belajar di kampus-kampus luar negeri”.

Walaupun belum ada kurikulum khusus berkenaan dengan digital farming, beberapa dosen telah memasukan pemahaman tersebut melalui mata kuliah yang diampunya. Hal ini perlu dilakukan mengingat memasukan mata kuliah baru tidak semudah yang dibayangkan, meski secara riil ada kebutuhan. “Kalau menjadi mata kuliah agak rumit diterapkan karena harus ada peninjauan kurikulum, sementara kurikulum yang eksis sering mengalami perubahan,” dia menambahkan.

Prinsip yang dipegang sementara ini adalah mahasiswa tahu gambaran kondisi yang harus dihadapi di masa mendatang. Karena itu mendekatkan dengan industri, dan belajar di kampus yang memiliki pertanian modern menjadi pilihan. Yang penting, kata Didik, setelah lulus mereka tidak kaget melihat kenyataan yang dihadapinya.

Mengenai benchmark untuk program digital farming ke kampus-kampus di Asia Timur, selain karena ketersediaan jaringan kerja sama, juga karena pertimbangan iklim dan budaya pangan dan budidaya tanaman pangan yang mirip. Negara-negara di Asia pada umumnya dan Asia Timur dan Asia Tenggara masyarakatnya menjadikan beras sebagai makanan pokok, sementara sayur dan buah-buahannya juga banyak yang sama. Meski negara Eropa, Amerika, Kanada dan lainnya memiliki pertanian yang lebih maju, tetapi faktor iklim yang sangat berbeda menjadi salah satu kendala dalam penerapannya.

Didik menegaskan, secara umum digital farming terbagi menjadi dua kegiatan pokok yaitu on farm yang terkait dengan budidaya mulai dari penyiapan, penanaman, pengelolaan dan panen; serta off farm yang meliputi kegiatan non-budidaya atau hasil pasca panen termasuk pengemasan, distribusi dan pemasaran. Di DEPTAN FPP UNDIP kedua kegiatan yaitu on farm dan off farm telah ditangani secara terpisah oleh masing-masing prodi walau keduanya bermuara menjadi satu kekuatan dalam DEPTAN. Kegiatan on farm menjadi ranah prodi Agroekoteknologi, sedangkan kegiatan off farm menjadi ranah prodi Teknologi Pangan dan Agribisnis. Dimana ketiga program studi tersebut telah established di DEPTAN antara 7-9 tahun. Dalam konteks sekarang, off farm sudah terlebih dulu memakai sarana digital, sehingga digitalisasi on farm adalah sebuah keniscayaan.

Departemen Pertanian FPP UNDIP saat ini mengelola 3 program studi sarjana dan satu program magister. Prodi sarjananya meliputi Prodi Teknologi Pangan, Prodi Agroteknologi dan Prodi Agribisnis. Untuk jenjang S2 ada Magister Agribisnis. Adapun fokus kajiannya adalah pertanian tropis dan fokus pada pertanian organik.

Jurusan pertanian yang kemudian dikenal sebagai DEPTAN di UNDIP lahir pada tahun 2012 dengan terbitnya SK Rektor Universitas Diponegoro Nomor: 312/SK/UN7/2012 tertanggal 30 Mei 2012 tentang Penggabungan Jurusan Produksi Ternak dan Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak Menjadi Jurusan Peternakan, serta Pembentukan Jurusan Pertanian Pada Fakultas Perternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro.