“Sedari kecil, orangtua saya selalu mengajarkan untuk menghargai waktu dengan menjalani aktivitas positif, seperti belajar ataupun bekerja membantu orang tua. Hal itu membuat saya memiliki perasaan optimis untuk selalu memberikan yang terbaik. Selama menjalani pendidikan dasar di SDN 1 Catur Tunggal, saya tidak pernah melepas ranking satu di setiap semesternya. Begitu juga saat mengenyam pendidikan menengah pertama di SMPN 1 Mesuji Makmur, sebanyak empat kali piala juara umum saya bawa pulang ke rumah. Di masa SMP pula, saya memulai untuk berorganisasi dengan bergabung di OSIS dan menjadi ketua ekstrakurikuler Majalah Dinding serta turut berpartisipasi membawa nama sekolah di berbagai ajang perlombaan” Ungkap Kukuh Ragil Prayogi, Wisudawan Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro yang lulus dengan predikat cumlaude dengan IPK 3,91 pada Wisuda ke-162 Universitas Diponegoro.

“Ayah saya seorang Pegawai Negeri Sipil dan ibu saya  seorang ibu rumah tangga yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Sehingga kedua orang tua saya harus berfikir keras untuk mempertimbangkan biaya pendidikan ketiga anaknya, lantaran ketika saya lulus dari SMP, kedua kakak saya melanjutkan pendidikannya ke pendidikan tinggi. Sementara ibu saya mengidap kanker ovarium stadium dua, namun karena biaya kuliah kedua kakak saya yang harus dipertimbangkan, ibu saya jauh lebih memilih untuk berteman dengan penyakitnya. Beruntung, di saat itu pula saya mendapatkan kabar mengenai pengumuman beasiswa pemerintah SMAN Sumatera Selatan untuk siswa berprestasi yang terkendala ekonomi memilih saya untuk bergabung” tuturnya.

“Keputusan yang berat memang, lantaran sekolah tersebut terletak di Kota Palembang yang membuat saya harus memiliki jarak dengan orang tua saya yang tinggal di Kabupaten Ogan Komering Ilir, tepatnya di Desa Catur Tunggal. Saya harus berlapang dada untuk meninggalkan ibu yang seharusnya saya bisa rawat selama mengenyam pendidikan menengah atas. Alhasil, rumah saya pun hanya diisi oleh kedua orang tua saya, ibu yang mengidap kanker ovarium dan ayah pula yang masih belum tuntas melawan penyakit TBC-nya. Terlepas dari hal itu semua, beasiswa pemerintah yang saya ambil ini demi keluarga saya pula. Setidaknya, orang tua saya bisa fokus untuk membiayai hidup dan pendidikan kedua kakak saya di Yogyakarta, juga membuat ayah dan ibu sembuh dari penyakitnya” lanjut Kukuh.

“Perjuangan saya ingin masuk Undip pernah ditempuh melalui dua jalur, waktu itu sempat mengikuti Ujian SBUB Undip namun ternyata belum berjodoh, hingga pada akhirnya Allah kasih jalan lewat jalur mandiri. Tentu jalur mandiri ini banyak tantangan, ada SPI dan juga UKT golongan tertinggi yang harus dibayarkan oleh orang tua saya, hingga sampai mendekati batas waktu pembayaran UKT, ternyata hasil jualan kue onde-onde Ibu dan tabungan Ayah saya belum menutupi biaya UKT dan akhirnya orang tua saya berhutang pada sebuah lembaga keuangan agar biaya pendidikan tidak terhambat. Walaupun diterima melalui jalur mandiri, saya tidak ingin menjadi mahasiswa biasa saja, perjuangan orang tua menjadi motivasi utama saya untuk mengimbangi antara kegiatan akademik, organisasi dan prestasi” terangnya.

Menurut Kukuh, Jurusan Psikologi menjadi pilihannya karena keresahannya melihat banyak masyarakat yang memiliki stereotip apabila skizofrenia adalah permasalahan roh halus, sehingga tak banyak dari mereka yang memilih memasung penderita dibanding ke rumah sakit. “Saya mempunyai keinginanan untuk dapat membentuk komunitas peduli skizofrenia yang berfokus dalam pemberian terapi rehabilitatif berupa CBT atau Cognitive Behavioural Therapy. Selama berkuliah, saya selalu menerapkan enrichment learning dimana pengalaman yang saya peroleh dari bidang lain dapat mendukung saya dibidang lainnya” ujarnya.

“Banyak sekali pembelajaran yang saya dapatkan selama kuliah di Undip, seperti mengikuti perlombaan yang berhasil membawa medali perunggu atas nama universitas dan Indonesia di The 5th International Young Invention Awards dan tergabung di organisasi ataupun membuka belajar kelompok bersama. Dengan menjalin relasi tersebut, saya yakin apabila pembelajaran konstruktif sosial yang saya lakukan berguna untuk teman-teman saya” ungkapnya.

Ajang perlombaan yang pernah ia ikuti antara lain Juara 1 LKTIN Olimpiade Mahasiswa Nasional, Universitas Aisyiyah Bandung Juara Harapan 2 LKTIN Pekan Ilmiah Kimia, Universitas Negeri Padang, Juara 1 LKTI Nasional KASUAMI, Universitas Halu Oleo, Juara 1 Lomba Proposal Penelitian PIMPEL UMS, Juara 2 Lomba Infografis Nasional Bima Sakti Universitas Jember, Juara 2 LKTIN Pelita Universitas Tidar, Juara 3 LKTIN Physics In Action Universitas Sriwijaya, Juara Harapan 2 LKTIN UPICREV Universitas Pendidikan Indonesia, Best Presentation LKTI ICEN-C Universitas Diponegoro,  Best Presentation LKTIN Pelita Universitas Tidar, Best Presentation LKTI Nasional Pesta Ilmiah Sriwijaya Universitas Sriwijaya, Grand Finalist Kompetisi Debat Psikologi Nasional Psychofest UNAIR, 9th Breaking Award of Kompetisi Debat Psikologi Nasional Psyfair UNPAD, Finalis Top 10 Lomba Karya Tulis Ilmiah SEC UNSOED dan Finalis 10 Paper Terbaik Psychopaper Olimpiade Psikologi Indonesia ke-4.

“Saya juga aktif mengikuti organisasi di BEM Undip sebagai staf muda di tahun 2018 dan dipercayai sebagai Ketua Divisi Survei dan Penelitian Biro Statistik BEM Undip 2019. Selama tergabung di organisasi tersebut, saya belajar banyak hal mengenai kepemimpinan dan manajemen. Di tahun 2020 menjadi konselor psikologi untuk rekan-rekan sebaya yang dinaungi oleh BEM Fakultas Psikologi, disamping itu untuk menambah uang saku dan biaya tambahan lomba, saya juga bekerja menjadi guru les, asisten dosen dan serabutan menjadi penjaga outlet minuman di kampus” kata Kukuh.

Ia berharap bisa mengamalkan ilmu-ilmu yang saya peroleh di pekerjaan dan memiliki besar harapan  sebagai alumni dapat membawa serta menjaga nama baik almamater Undip dimanapun berada dan dapat melanjutkan studi S2 Magister Profesi Psikologi dengan beasiswa.

“Jangan pernah takut untuk mengambil kesempatan yang ada, masalah jatuh dan gagal sudah sepatutnya namun bukan untuk ditangisi, melainkan harus dijadikan inspirasi. Jadilah diri sendiri yang berani tampil unik, bersenang-senanglah ketika belajar dan dalami semuanya yang kita suka, karena kelak kesemuanya itu akan mendukung kesuksesan. Selalu berdoa dan berserah diri, sebab akan selalu ada kejutan disetiap perjuangan kita. Saya juga berharap agar Undip terus memberikan fasilitas bagi mahasiswa untuk dapat berkarya di bidang apapun serta terus meningkatkan kualitas pendidikan yang sudah sangat baik ini menjadi lebih optimal dan tentunya turut mendukung Undip menjadi World Class University” harap Kukuh. (Linda Humas)