Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro menyelenggarakan Kuliah Umum Sejarah Perkotaan (14/8) dengan pembicara Dr. Sarkawi B. Husain, M. Hum. (Universitas Airlangga) dan dimoderatori oleh Dr. Indriyanto, M. Hum. (Dosen Sejarah Undip). Acara dibuka secara resmi oleh Dekan FIB Undip,  Dr. Nurhayati, M. Hum., ia menyampaikan apresiasi atas konsistensi Departemen Sejarah dalam menyelenggarakan kegiatan webinar, baik dalam berbagai kemasan dan tema.

Dalam materinya, Dr. Sarkawi menyampaikan tentang pentingnya sejarah kota dalam kajian sejarah serta bidang-bidang kajian sejarah kota, yang meliputi perkembangan ekologi kota, transformasi sosial-ekonomi,problem sosial, mobilitas sosial, dan simbol kota. Sejarah menempati posisi yang begitu strategis karena sejarah adalah permulaan dari ilmu pengetahuan dan “ratu” atau “ibu” dari ilmu pengetahuan sosial. Sejarah kota penting sebab sejak abad XX kota-kota di Indonesia telah  mengambil alih banyak kegiatan dari pedesaan, perlawanan terhadap kolonial, tidak lagi di desa degan  pemimpin pedesaan sebagai penggerak, tetapi di kota dengan kaum terpelajar dan kelas menengah serta kota sebagai entitas sendiri dan patut menjadi bidang kajian tersendiri pula.

“Bidang kajian-kajian sejarah kota, antara lain perkembangan ekologi kota. Ekologi adalah interaksi antara manusia dengan alam sekitarnya dan perubahan ekologi terjadi bila salah satu dari komponen itu mengalami perubahan. Penggunaan tanah kota untuk berbagai kebutuhan telah mengubah keadaan alamiah tanah ke dalam berbagai macam sektor. Ada tanah untuk pemukiman penduduk, perdagangan, industri, rekreasi, perkantoran dan lain-lain” tuturnya.

“Perubahan ekologi juga terjadi sesuai dengan perkembangan penduduk, secara etnis, status sosial-ekonomi, secara kultural sehingga pola pemukiman mengalami pengelompokan. Di banyak kota kolonial, seperti Surabaya pola pemukiman ini adalah by design oleh pemerintah kolonial. Dalam kota modern, pola pembagian pemukiman kebanyakan berdasarkan kelas sosial, penghuni kota lama tergeser atau tergusur oleh penghuni baru yang menempati lokasi strategis” lanjutnya.

Sedangkan kajian lain tentang simbol kota diantaranya selain patung dan monumen, terdapat banyak aspek lain yang menarik dan penting  seperti nama jalan, lambang kota, simbol agama dan makam Islam, Tionghoa. Studi tentang simbol kota menarik dan penting untuk dilakukan dengan tiga pertimbangan.  Pertama, sebagian besar simbol menggunakan ruang fisik, misalnya monumen. Kedua,  simbol-simbol berpengaruh terhadap penggunaan ruang lainnya, dan sebaliknya dipengaruhi oleh penggunaan ruang yang lain. Ketiga, dinamika simbol-simbol kota merefleksikan perubahan dalam struktur kekuasaan.

“Menurut Els Bogaerts, Sejarah adalah jalan panjang yang berliku, kita tidak boleh mencari jalan tikus untuk segera sampai pada tujuan” pungkas Dr. Sarkawi mengakhiri materi yang dibawakannya. (Linda Humas)