Darah mengalir di dalam pembuluh darah terutama arteri membutuhkan tekanan tertentu untuk menjamin aliran darah terus menerur terjadi. Tekanan darah ditentukan oleh banyak faktor, diantaranya; kekuatan kontraksi jantung, frekuensi denyut jantung, tahanan di dinding pembuluh darah, kekentalan darah dan sebagainya. Tekanan darah menentukan tinggi rendahnya tahanan dinding pembuluh darah bertujuan supaya darah tetap mengalir dari pusat pompa darah (jantung) ke seluruh pembuluh arteri tubuh.

Tekanan darah ditulis sebagai dua angka. Angka pertama (sistolik) mewakili tekanan dalam pembuluh darah saat jantung berkontraksi atau berdenyut. Angka kedua (diastolik) mewakili tekanan di pembuluh darah saat jantung beristirahat di antara detak. Tekanan darah tinggi atau hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah melebihi angka 140/90 mmHg. Hal tersebut disampaikan oleh dr. Pipin Ardhianto, Sp.JP(K), FIHA (Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, Rumah Sakit Nasional Diponegoro Universitas Diponegoro).

Lebih lanjut dr. Pipin menuturkan hipertensi kronik dan tidak terkontrol meningkatkan risiko gangguan fungsi orgran vital tubuh terutama fungsi otak, mata, ginjal dan jantung. Penyakit ini menjadi masalah utama dalam kesehatan masyarakat di Indonesia. Riset kesehatan dasar menunjukkan hipertensi merupakan factor risiko penyakit stroke dan jantung paling banyak.

Pasien dengan hipertensi tidak akan bergejala sampai adanya gangguan fungsi salah satu organ didalam tubuh. Hal ini mengakibatkan jutaan orang tidak menyadari sudah terkena hipertensi. Kebanyakan pasien mengetahui memiliki hipertensi pada saat stroke, gangguan penglihatan, gangguan fungsi ginjal dan gangguan fungsi jantung terjadi. Dilihat dari sisi pencegahan suatu penyakit maka sebenarnya sudah ‘terlambat’.

“Hipertensi dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko yang dikelompokkan menjadi faktor risiko yang tidak dapat diubah dan faktor risiko yang dapat diubah. Faktor risiko yang tidak dapat diubah diantaranya adalah jenis kelamin, umur dan factor keturunan, sedangkan faktor risiko yang dapat diubah diantaranya adalah merokok, obesitas, tidak beraktivitas fisik rutin, konsumsi natrium berlebih, konsumsi kalium rendah, alkohol” terangnya.

Penelitian pada masyarakat di Indonesia menemukan bahwa tingginya asupan garam (natrium) merupakan penyebab terbanyak. Natrium terdapat dihampir semua jenis masakan dan makanan yang popular di Indonesia. Kandungan natrium semakin tinggi pada penggunan penyedap rasa yang berlebihan, makanan cepat saji, sereal cepat saji, minuman kemasan rasa buah, jus kemasan, bumbu masak instan, produk susu terutama keju dan butter, makanan laut (kepiting, udang, cumi, kerang, ikan laut kalengan, sedangakan ikan laut segar tidak memiliki kadar natrium tinggi), mie instan dan sebagainya. Sebagai patokan adalah, makanan kemasan dan/atau instan hampir pasti memiliki kadar natrium tinggi. Menghindari sekuat mungkin konsumsi makanan tersebut mampu mencegah hipertensi dan khususnya bagi pasien hipertensi merupakan terapi utama, selain obat obatan tentunya.

“Upaya lain yang dapat dilakukan adalah melakukan aktivitas fisik (olahraga) rutin. Olah raga aerobic sederhana seperti jalan, jogging, lari, sepeda, berenang secara rutin terbukti mampu mencegah dan mengendalikan hipertensi. Dianjurkan berolahraga dengan frekuensi minimal 3 kali dalam satu pekan, masing masing minimal 30 menit. Jika tidak sempat, kegiatan fisik lain seperti memotong rumput, mebersihkan selokan, mencuci mobil atau kegiatan lain yang berkeringat dapat juga dilakukan. Namun, ada beberapa jenis olah raga yang perlu dihindari pada pasien dengan hipertensi seperti, menyelam, angkat besi, lari sprint cepat” tutur dr. Pipin.

“Penderita hipertensi yang sudah didagnosis oleh dokter sebaiknya tetap mengikuti anjuran para dokter untuk kontrol rutin, mengkonsumsi obat yang diberikan, dan yang utama adalah melakukan upaya perubahan pola hidup terus menerus kearah yang lebih sehat. “obat yang rasional pada pasien dengan hipertensi bertujuan juga untuk melindungi organ vital tubuh seperti ginjal. Sehingga masyarakat tidak perlu takut bahwa obat hipertensi akan merusak ginjal. Bahkan sebaliknya penggunaan lama obat hipertensi pada pasien hipertensi akan menjaga lebih lama fungsi ginjal dibandingkan apabila hipertensi tidak diobati” pungkasnya. (Lin-Humas)