Prof. Erma Prihastanti (Fakultas Sains dan Matematika) Universitas Diponegoro resmi dikukuhkan oleh Rektor Undip sebagai Guru Besar pada Jumat (30/9) bertempat di Gedung Prof Soedarto,SH kampus Undip Tembalang.

Dalam pidato ilmiahnya ia menyampaikan perubahan iklim dan keterbatasan ketersediaan air di beberapa wilayah di dunia, menciptakan ancaman serius untuk industri perkebunan, terutama kakao sebagai tanaman sensitif kekeringan. Di banyak negara penghasil kakao, tanaman ini  dibudidayakan di daerah tadah hujan, namun inkonsistensi pola curah hujan menjadi kendala utamanya. Tanaman kakao sendiri memiliki sistem perakaran yang sangat dangkal yang memungkinkannya menyerap air dari lapisan permukaan saja, oleh karenanya tanaman ini sensitif  terhadap  kekeringan.

Kakao merupakan salah satu komoditas penting  di dunia baik bagi negara produsen maupun konsumen. Tahun 2021, Indonesia menjadi  salah satu negara penghasil kakao terbesar di dunia. Data dari International Cocoa Organization (ICCO) bulan Agustus 2021 menunjukkan volume produksi kakao dunia sebesar 5.141 juta ton, sekitar 70 persen dari seluruh biji kakao berasal dari empat negara di benua Afrika, sedangkan Indonesia menyumbang  4 persen atau sekitar 200 ribu ton biji kakao.

“Hasil penelitian sosioekonomi terhadap produksi kakao akibat  kekeringan  terkait dengan gejala ENSO menunjukkan penurunan  yang mencapai 62% – 89%. Selanjutnya pengamatan dampak kekeringan selama 6 bulan juga menunjukkan penurunan  bobot  biji kering kakao sebesar 8%. Namun jika kemarau  panjang  disertai  angin  kencang menyebabkan  hampir  seluruh  daun  gugur, flush mengering, dan banyak pucuk ranting yang mati” tuturnya.

Lebih lanjut Prof. Erma mengatakan kekeringan berdampak luar biasa pada tanaman seperti penghambatan pertumbuhan serta menginduksi perubahan dalam metabolisme dan fisiologi tanaman. Sebagian besar tanaman yang toleran kekeringan, termasuk beberapa genotipe kakao, sering menggunakan cara adaptasi dalam merespon cekaman kekeringan. Cara adaptasi tanaman ditunjukkan seperti pada perubahan morfologi dan anatomi daun seperti perubahan ukuran, ketebalan kutikula, jumlah trikomata dan stomata,  jaringan palisade ketebalan parenkim spons dan jaringan pembuluh xilem yang lebih berkembang.

“Seleksi genotipe berdasarkan parameter biokimia seperti senyawa  karbohidrat terlarut, proline dan  nitrat reduktase dapat juga membantu dalam mengembangkan hibrida toleran kekeringan yang dapat digunakan dalam program pemuliaan lebih lanjut. Seleksi bibit kakao yang toleran kekeringan memiliki  karakteristik  fisiologi  seperti akumulasi prolin, aktivitas  katalase  dan  NR-ase  yang  tinggi. Cara-cara ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi genotipe atau spesies toleran kekeringan yang menjamin tingkat hasil yang berkelanjutan dalam kondisi kekeringan” ungkapnya.

“Untuk mitigasi perubahan iklim pada tanaman kakao diperlukan perbaikan pemeliharaan tanaman terutama  pemberian mikoriza, penggunaan varietas tahan kekeringan, pembuatan rorak, pembuatan penampungan air, pupuk organik, pembenah tanah, pemupukan yang tepat, tanaman penutup tanah, naungan, pemangkasan” pungkas Prof. Erma. (Lin-Humas)