SEMARANG – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS), D3 Hubungan Masyarakat (Humas) Program Studi Di Luar Kampus Utama (PSDKU) Batang Universitas Diponegoro (UNDIP) menggelar seminar online dengan topik Pandemi Momentum Kaum Muda Mengasah Jiwa Kemanusiaan sebagai wujud partisipasi mahasiswa terhadap kondisi yang dihadapi masyarakat. Kegiatan yang dilakukan secara daring itu juga dimaksudkan untuk menambah wawasan mahasiswa sebagai bekal sebelum terjun langsung di masyarakat.

Hadir sebagai pembicara adalah Lisdayanti dari Aksi Cepat Tanggap (ACT)  Departemen Nasional Philantropy Network, Wakil Ketua III Bidang Pembinaan SDM dan relawan Palang Merah Indonesia (PMI),  Sri Mulyatno, S.Pd. Kegiatan yang diinisiasi oleh Divisi Abdimas HMPS PSDKU Batang dan dilaksanakan pada Sabtu (8/9/2021), diikuti sedikitnya 87 orang.

Ketua Prodi D3 Hubungan Masyarakat PSDKU Undip, Dr Adi Nugroho M.Si, saat memberi pengantar pada acara tersebut mengatakan selain untuk menambah wawasan para mahasiswa, kegiatan tersebut juga bermanfaat untuk mengasah jiwa kemanusiaan generasi muda dalam membantu sesama. “Ini penting untuk dilakukan, apalagi di tengah pandemi Covid-19 yang kita alami saat ini,” kata Adi Nugroho.

Ketua Prodi D3 Hubungan Masyarakat PSDKU Dr Adi Nugroho M.Si. Foto: dok

Sementara itu Sri Mulyatno S.Pd yang memaparkan materi “Bersama PMI Mengasah Jiwa Kemanusiaan di Masa Pandemi” mengatakan, sejak PMI berdiri 17 September 1945, sudah banyak kegiatan kemanusian yang dilakukan. “Peran PMI saat pandemi diantaranya adalah pelayanan darah, pelayanan mobil ambulans, penyemprotan desinfektan, pemakaman jenazah Covid-19, evakuasi korban banjir, distribusi bantuan logistik, dukungan pelaksanaan kegiatan swab, dukungan pelaksanaan vaksinasi dan promosi kesehatan dan lainnya,” ujar Sri Mulyatno.

Menurut dia, generasi muda harus punya jiwa kemanusiaan, apalagi di tengah pandemi seperti saat ini. “Nilai-nilai kemanusiaan akan tertanam, tumbuh dan terasah kalau kita mau, sering dan membiasakan menolong orang yang membutuhkan pertolongan. Nilai kemanusiaan tidak sekedar ilmu, teori, tetapi praktek di lapangan, di daerah konflik dan daerah bencana,” paparnya.

Karena itu, menurut Mulyatno, nilai kemanusiaan akan tertanam, tumbuh terasah dengan cara salah satunya adalah  apabila  bergabung dengan organisasi kemasyarakatan yang bergerak di bidang sosial seperti PMI. Pararelawan kemanusiaan PMI melaksanakan tugas setelah mendapat pendidikan, pelatihan dan pemahaman kode etik relawan.

Dia memberikan tips, dalam melakukan misi kemanusiaan saat menolong kita harus menghilangkan rasa pamrih. “Alangkah baiknya ketika menolong orang tidak perlu mengedepankan rasa ingin diberi kembali. Ketika kita menolong dengan rasa kemanusiaan insya Allah kemudahan akan kita dapatkan.”

Sementara itu, Lisdayanti dari ACT (Aksi Tangap Cepat) membawakan materi berjudul Humanity Philantrophy Volunteerism (Pandemic Momentum Kaum Muda Mengasah Jiwa Kemanusiaan). Lisdayanti mengungkapkan, ACT memiliki beberapa program atau kegiatan kemanusiaan yakni  global wakaf, global zakat, global qurban, dan lainnya. ACT sendiri ada di sejumlah negara, sehingga jaringannya kuat dalam membantu misi-misi kemanusiaan. “Bahkan Indonesia disebut sebagai negara dermawan oleh mereka,” jelasnya.

Sejumlah aksi sosial tersebut diantaranya adalah fasilitas ambulans, layanan kesehatan, santunan, kebutuhan musim dingin, pembangunan masjid, rumah, pembagian Al-Quran, pertanian dan lainnya. “Kami juga memberikan bantuan ke luar negeri, atau sebaliknya karena ACT merupakan penghubung untuk semuanya. Misalnya, orang Inggris ingin berqurban di Indonesia, maka ACT terima dan serahkan ke Indonesia. Begitu juga  kita memberi bantuan ke luar.”

Mengenai cara bergabung dengan ACT, syarat utamanya adalah memiliki sisi kerelawanannya, mengabdikan diri full time untuk staff, sedangkan untuk sukarelawan tidak ada persyaratan yang khusus, namun harus memiliki skill tertentu untuk beberapa posisi. (tim humas)

Panitia webinar. Foto: dok